Beranda > Artikel > Kemesraan Ilmu & Jihad

Kemesraan Ilmu & Jihad

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”. (Q.S. At-Taubah: 122)

Saudaraku kaum muslimin…

Ayat ini memberikan beberapa faedah tarbiyyah bagi kita semua, seluruh kaum mukminin, diantaranya:

–         Dalam ayat ini Alloh Subhanahu Wa Ta’ala menjelaskan tentang hukum nafar (memobilisasi masa).

Hal tersebut menandakan bahwa melakukan nafar merupakan peribadatan kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala:

ألأنفز عاج عن ألشيء كا لفزع الى الشي ء وعن الشي ء

“Memprovokasi sesuatu dan kepada sesuatu, seperti mendorong kepada sesuatu dan tentang sesuatu.”

Istinfar berarti memprovokasi masa untuk berperang. Nafar juga berarti pergi bergegas dan terburu-buru.

Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

كَأَنَّهُمْ حُمُرٌ مُسْتَنْفِرَةٌ

“Seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut.” (Q.S. al-Muddatsir: 50) (Lihat: al-Mufradat Fi Gharib al-Qur’an, hal. 502)

Memprovokasi dalam ayat ini bukanlah memprokasi masa untuk manghasut, berbuat anarkis tanpa tuntunan syari’ah. Memprovokasi dalam ayat ini adalah untuk membela kedaulatan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, menegakkan kebenaran islam dan meluruskan jalan kemanusiaan, yaitu berjihad fisabilillah.

–         Banyak sekali ayat-ayat al-Qur’an yang memerintahkan nafar untuk berjihad. Di antaranya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انْفِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الأرْضِ أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الآخِرَةِ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلا قَلِيلٌ

“Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu: “Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit”.(Q.S.at-Tawbah: 38)

Bahkan Alloh Subhanahu Wa Ta’ala perintahkan kita untuk nafar, dalam kondisi senang maupun susah.

انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan atau pun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (Q.S.at-Tawbah: 41)

Artinya nafarlah semua kalian dalam keadaan yang ringan untuk berjihad atau dalam keadaan berat. Kondisi seperti ini mencakup semua keadaan seperti yang diterangkan oleh banyak ahli  tafsir, yaitu:

حِفَافاًَ فِي النُّفُوْرلِنَشَا طِكُمْ لَهُ َوثِقَا لاً عَنْهُ لِمَشَقَّتِهِ عَلَيْكُمِْ

“Dalam keadaan semangat atau berat”.

حِفَافاًَ  لِقِلَّةِ عَلَيْكُمْ َوثِقَا لاً  لِكَثْرَتِهَا

“Dalam keadaan banyak bekal atau sedikit”.

حِفَافاًَ مِنْ السَّلَمِ وثِقَا لاً مِنْهُ

“Dalam keadaan memiliki senjata atau tidak”

رُكْبَا ناً وَ مُشَا ةً

“Berkendaraan atau berjalan kaki”

شَبَابَاوَمُشَاةً

“Muda atau tua”

مُهَازِلَ وَ سِـمَا نًا

“Berbadan kurus atau gemuk”

ِصحَاحاً وَمَرْ ضًى

“Sehat atupun sakit”

(Tafsir ar-Raziy: 16/70)

Saudara kaum muslimin…

–         Nafar (mobilisasi massa) dalam rangka mendapat ilmu. Kemutlakan ayat diatas (Q.S at-Tawbah : 122) mendorong para lafus dalam berlomba-lomba mencari jihad fisabilillah.

Shahwan bin Amr Rahimahullah berkata:

“Dulu aklu pernah menjadi gubernur diwilayah Himsh. Ketika itu aku bertemu dengan kakek tua dari damaskus yang kedua matanya sudah mulai redup namun masih bergelora dalam berjihad. Aku bertanya kepadanya:

“Wahai paman, engakau ma’dzur (mendapat izin tidak berjihad) di sisi Alloh.”

Tiba-tiba dia mengangkat kedua matanya berkata:

Hai anak saudaraku, Alloh memerintahkan kami bernafar baik dalam keadaan nafar maupun berat. Ketahuilah, bahwa orang yang dicintai Alloh pasti diuji oleh-Nya.”

Akan tetapi dengan keadilan-Nya Alloh memerintahkan kaum mukminin untuk tetap berada dalam keseimbangan. Perang atau jihad yang akan dan sedang dilakukan hendaknya tetap dalam koridor syari’at Alloh Subhanahu Wa Ta’ala, bukan karena hawa nafsu ingin membunuh atau menumpahkan darah atau kerena hal-hal lain yang tidak pernah diperrintahkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan diajarkan oleh Rasul-Nya Salallahu Alaihi Wasalam. Untuk itu, ilmu syar’I merupakan bagian yang tak terpisahkan dari seluruh upaya peribadatan yang dilakukan, termasuk jihad didalamnya.

al-Baghawaiy Rahimahullah berkata:

“Firman Alloh (Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (kemedan perang). Artinya hendaklah ada satu kelompok ditiap kobilah yang bertugas keluar untuk berperang dan satu kelompok lain tinggal bersama Rasululloh (untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama) yaitu satu kelompok yang tidak ikut perang untuk mempelajari al-Qur’an, sunnah, fardhu-fardhu dan berbagai hukum. Agar, saat pasukan kembali, para penuntut ilmu itu mengkhabarkan apa-apa yang diturunkan kepada mereka.” (Tafsir al-Baghawiy: 2/343)

Hal ini menunjukkan agungnya ilmu, khususnya al-fiqhu fi ad-din (faham secar mendalam terhadap agama) sebagai perkara penting, mencari ilmu dan menyebarkannya, serta agungnya nasehat dari orang yang berilmu.

Apabila ilmu tela berkurang, dakwah fi sabilillah tiada, pengajaran kepada orang jahil ditinggalkan, maka manfaat apa yang diperoleh kaum muslimin? Kemana berkahnya ilmu?

Ayat ini bersifat faedah penting yaitu kaum muslimin harus berusaha keras terhadap setiap apa yang menghasilkan maslahat bagi ummah, yang dapat menyempurnakan manfaat agama dan dunia mereka.

Saudaraku kaum muslimin…..

–         Nafar dalam rangka jihad harus diiringi dengan ilmu.

Jihad yang merupakan puncak dari segala amal, maka sangat membutuhkan bimbingan ilmu. Jihad sebagai puncak keikhlasan, maka butuh ilmu ikhlas sebelum berjihad. Jihad sebagai puncak kecintaan kepada Alloh, maka butuh ilmu ma’rifatullah.

Jihad sebagai puncak tawakal, maka harus ada ilmu tawakal. Jihad sebagai puncak kesabaran maka butuh ilmu sabar agar tidak jatuh ditengah jalan. Jihad dan ilmu sebenarnya dua hal yang tidak bisa dipisahkan, maka keduanya harus bisa tampil mesra.

Tujuan dari beriringnya ilmu dan jihad antara lain:

. Agar jihadnya berdasarkan tafaqquh fi ad-dien,bukan berdasarkan hawa nafsu.

. Agar kewaspadaan terhadap pelanggaran syari’at.

. Agar tidak terjadi jihad tanpa ilmu ataupun ilmu tanpa jihad.

Syaikh Abdul Aziz bin Nashir al Julayyil Rahimahullah menyatakan bahwa diantara salah satu rambu terpenting dalam melakukan perubahan terhadap umat yang jalannya adalah jihad fi sabilillah ialah I’dad al-ilmi (persiapan ilmu), tafaqquh fi ad-dien (mendalami agama) dan memiliki bashirah (pandangan yang tajam) tentangnya. Agar dakwah individunya dan jihad jama’inya berdasarkan bashirah dan bendera yang jelas.

Dia faqih (faham betul), mengapa dia berjihad? Bagaimana dia berjihad? Siapa yang berjihad? Di atas aqidah apa dia berihad? Semua itu tidak mungkin digapai kecuali dengan ilmu dan tafaqquh di ad-dien (faham secara mendalam tentang agama Alloh).” (Waqofat Tarbawiyyah: 1/239)

Saudaraku kaum muslimin….

Ada dua qanun (ketetapan) Alloh Subhanahu Wa Ta’ala yang tertata rapi dan tidak akan mengalami perubaha. Pertama, qanun pertolongan Alloh Subhanahu Wa Ta’ala dan dukungan-Nya kepada wali-wali-Nya serta kesertaan-Nya pada hamba-hamba-Nya yang muhsin.

Kedua, qanun kebalikannya, yaitu permusuhan dari musuh-musuh islam tetap berlangsung selama bumi dan langit masih berdiri. Kaum musyrikin, orang-orang Yahudi dan Nashrani, orang-orang atheis dna orang-orang munafik, meraka dkan selalu membuat makar dan tipu daya, siang dan malam sehingga dapat membabat habis islam dan mencabut sampai ke akar-akarnya (menurut prasangka mereka).

Dua qanun Rabbani ini telah nyata dalam kehidupan kita. Qanun pertolongan Alloh Subhanahu Wa Ta’ala pada wali-wali-Nya dan qanun permusuhan yang terus berlangsung, seperti tipu daya, jebakan, menimpakan bencana dan rintangan dari musuh-musuh Alloh Subhanahu Wa Ta’ala terhadap wali-wali-Nya. Musuh-musuh Ialam akan meyerang dan menggoyak serta  tidak kan pernah mau diam selamanya.

Sepanjang masih ada islam, peperangan akan terus berlangsung. Tidak ada pilihan bagi kaum muslimin lain melangkahkan kakinya pada jalan ilmu dan jihad.

Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman menerangkan hal tersebut:

كَتَبَ اللَّهُ لأغْلِبَنَّ أَنَا وَرُسُلِي إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ

Allah telah menetapkan: “Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang”. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (QS al-Mujadilah:21)

إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الأشْهَادُ

Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat). (QS al-Mu’min 51)

قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا سَتُغْلَبُونَ وَتُحْشَرُونَ إِلَى جَهَنَّمَ وَبِئْسَ الْمِهَادُ

Katakanlah kepada orang-orang yang kafir: “Kamu pasti akan dikalahkan (di dunia ini) dan akan digiring ke dalam neraka Jahanam. Dan itulah tempat yang seburuk-buruknya”.(QS. Ali Imran :12)

Sebagai kebalikanya Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman menuturkan keadaan orang-orang kafir:

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.(QS. Al-Baqoroh: 120)

وَلا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ * إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَةَ اللَّهِ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Baqoroh: 217-118)

Qanun (ketetapan) Alloh yang lain, yaitu bahwa Alloh Subhanahu Wa Ta’ala akan membersihkan orang-orang beriman dari orang-orang munafik. Sebab, kemenangan tidak akan datang kepada suatu kaum yang masih bercampur aduk antara yang tahyyib (baik), yaitu kaum beriman dengan yang khabist (buruk) yaitu kaum munafik.

مَا كَانَ اللَّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتَّى يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى الْغَيْبِ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَجْتَبِي مِنْ رُسُلِهِ مَنْ يَشَاءُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَإِنْ تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوا فَلَكُمْ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin). Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang gaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala yang besar.” (QS. Ali-Imron:179)

وَلا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لأنْفُسِهِمْ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا إِثْمًا وَلَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ

Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan.(QS. Ali Imran:178)

Ketika telah muncul kaum beriman yang bersih dari orang-orang munafik, maka binasalah orang-orang kafir dan turunlah kemenangan.

وَلِيُمَحِّصَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَمْحَقَ الْكَافِرِينَ

“dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir.(QS. Ali Imron : 141)

Oleh karena itu, dalam menyikapi kawanin (ketetapan-ketetapan) itu, haruslah dengan ilmu dan jihad. Tak ada jalan lain selain kedua jalan itu. Dua jalan inilah pilihan orang-orang beriman. (red/www.hasmi.org)

Share This Post:

Bookmark and Share

Kategori:Artikel
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: