Beranda > Annisa, Tanya Jawab > Hukum Wanita Pergi Haji Tanpa Muhrim

Hukum Wanita Pergi Haji Tanpa Muhrim

Q: Assalamu’alaikum. wr.wb.

Ustadz Abu Jibriel yang dirahmati Allah, yang ingin saya tanyakan: Ibu saya masih ragu untuk pergi haji sendiri tanpa mahram. Karena keterbatasan dana Ayah saya sudah berangkat haji terlebih dahulu. Meskipun dikelompok hajinya tentunya ada muhrimnya (sesama wanita). Sebab ada yang bilang pergi haji tanpa mahram, hajinya tetap sah namun berdosa. Sebenarnya bagaimana hukumnya wanita pergi haji seorang diri tanpa mahram meskipun ada muhrim?
Saya sangat menanti jawaban ustadz, karena ibu saya sudah dapat porsi untuk keberangkatan tahun 2009.
Jazakallah khairan katsiran.

Wassalam,
Liza (lizafimarna@xxx.com)

A: Waalikumsalm Wr. Wb.

Ukhti Liza yang dirahmati Allah, para ulama’ berselisih pendapat dalam hal ii, karena ada beberapa hadits yang seakan-akan bertentangan, antara hadit yg melarang dan hadits yg membolehkan. contoh hadits yang melarang:

Hadits yang diriwayatkan Imam Muslim. Dari Abu Hurairah RA.: Bahwasanya Nabi SAW. bersabda: “Tidak dihalalkan (yaitu diharamkan) bagi seorang wanita yang berimandengan Allah dan hari Akhirat, bermusafir selama tiga malam, melainkan bersama muhrimnya”

Contoh hadits yang membolehkan:
Hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari. Dari ‘Adi bin Hatim Ra. katanya: Ketika Kami bersama Rasulullah SAW. tiba-tiba datang seorang lelaki dan ia mengadukan kemiskinannya. kemudian datang pula yang lain mengadukan terganggunya keamanan jalan disebabkan perampok. maka Rasulullah SAW. bersabda: “Wahai ‘Adi, apakah pernah engkau melihat Hirah? (nama sebuah kampung dekat kota kuffah) Jawabku: “Belum, tapi saya pernah diceritakan tentangnya”. Sabda Nabi lagi: “Seandainya usia anda panjang, demi sesungguhnya anda akan melihat seorang wanita keluar menuju ke Baitullah sehingga (sampai dan) tawaf di kaabah, tiada yang ditakutinya kecuali Allah.”

Dari kedua hadits tersebut masing2 Imam 4 madzhab berbeda pendapat. Menurut Imam Hanafi dan Hambali, haram atas wanita mengerjakan haji atau umrah sehingga mereka ditemani suaminya atau muhrimnya.

Adapun menurut pendapat Imam Syafi’i dam Maliki. Wanita boleh mengerjakan haji dan umrah dengan ditemani oleh sekumpulan wanita yang bisa dipercaya, akan tetapi ini berlaku ketika melaksanakn haji atau umrah yang wajib bagi yang mampu. Dalam artian haji dan umrah yang pertama kalinya, apabila melakukan yang kedua kalinya atau seterusnya, berarti dia melakukan ibadah haji atau umrah yang sunnah, karena setiap orang hanya diwajibkan berhaji dan umrah hanya sekali dalam hidupnya, dan selanjutnya adalah sunnah.

untuk permasalahan ini memang para ulama’ berbeda pendapat dalam memandang hadits yang kedua-duanya shohih. dan untuk keadaan sekarang pendapat Imam syafi’i lebih tepat, Insya Allah…

Wallahu’alam…

Wassalamualaikum Wr. Wb.

(Ust. Abu Jibriel)

Share This Post:

Bookmark and Share

Kategori:Annisa, Tanya Jawab
  1. ninuk
    Januari 14, 2010 pukul 7:15 am

    Assalamualaikum wr wb,
    ustad, saya berencana untuk umroh ke dua, dan saat ini saya tidak ada muhrim karena suami sudah meninggal dan InsyaAllah saya berangkat dengan ibu saya. Bolehkah saya pergi menurut Ustad dengan kondisi tersebut?
    terima kasih
    waalaikumsalam wr wb

    • z4nbh1
      Januari 14, 2010 pukul 4:08 pm

      Wa’alaykumsalam Wr.Wb.

      Sebelumnya ana Minta maaf, kalo bisa panggilnya Zainn, jng Ust, karena ana masi butuh banyak belajar masalah Dien, karena julukan Ust belum pantas buat ana🙂

      Bismillah,

      setelah kita membaca tulisan diatas yakni pertanyaan dari salah seorang wanita buat Ust. Abu Jibriel, mengenai “Bolehkah Wanita Berpergian Menunaikan Haji tanpa Muhrim”.

      Ana akan mecoba memberikan beberapa pertanyaan dan di jawab oleh berbagai ulama, seperti Ibnu Taimiyyah, Nasruddin Al Al baani, dan lajnah Ifta, juga ulama lainnya kepada Ibu Ninuk.

      1. Apakah wanita Muslimah berhak pergi haji wajib,
      bersama perempuan-perempuan yang dapat dipercaya
      lainnya, jika ada udzur baginya dalam permasalahan
      muhrimnya, alias, tidak bisa ditemani muhrimnya ?

      – Yang benar adalah : Tidak boleh baginya pergi haji,
      kecuali bersamanya suaminya, atau abang kandung,
      bapak, paman, bibi atau ibunya, dan sebagainya dari
      muhrimnya tersebut. Jika tidak ada orang-orang
      tersebut, maka tidak wajib baginya berhaji, karena ia
      telah kehilangan syarat dari salah satu syarat haji
      yaitu istitaa’ah ( kesanggupan ). Firman Allah : “
      Bagi manusia wajib haji bagi yang sanggup “ ( Al Imran
      97 ) ( Ini pendapat dari lajnah Ifta Ulama di Mesir).

      2. Dari kebanyakan wanita-wanita zaman sekarang, ada
      yang musafir untuk haji dan umrah, tanpa ada
      besertanya muhrim, bagaimana hukumnya ini ?

      – Pada hakikatnya para ulama berbeda pendapat dalam
      musafirnya seorang wanita untuk haji yang fardhu (
      wajib ) ini, Ada yang mengatakan : “ Boleh bagi wanita
      pergi haji yang fardhu, tanpa muhrim, “. Ini pendapat
      Malik, As Syafi’i. mereka berpendapat haji adalah salah
      satu kewajiban.

      – Ada yang mengatakan lain lagi : “Tidak boleh pergi
      haji bagi wanita, meskipun haji fardhu , bila tak ada
      bersamanya muhrimnyaa”. Ini pendapat Ahmad dan
      Abi hanifah.

      – Namun semuanya sepakat : bahwa tidak boleh bagi
      wanita pergi haji bila tidak ada muhrimnya, jika hajinya
      tersebut haji Sunnah ( kedua kalinya ), atau umrah,
      kecuali dalam keadaan darurat sekali. Karena kaedah
      ushul Fiqh (Yang darurat membolehkan yang terlarang)

      – Adapun mengenai haji sunnah, atau umrah, maka ini
      dilarang, bila tanpa muhrim, hanya untuk
      mengharapkan keridhaan Allah dan ibadah sunnah
      yang banyak, sungguh sangat mustahil bagi anda kaum
      wanita mengharapkan ridha Allah sementara sudah
      terlarang baginya dari lisan nabiNya, : (idak boleh bagi
      seorang muslimah musafir tanpa di temani oleh
      muhrimnya). ( muttafaqun alaihi ).

      3. Bagaimana hukum wanita yang pergi haji bersama
      jamaah mukminat yang lain ?

      – Perkataan ini menurut sebahagian ahli ilmu berbeda
      pendapat, berbedanya hukum tergantung dari
      perbedaan kondisi.

      – Jika lebih banyak mudharatnya yang akan di timbulkan
      oleh hal tersebut, maka tidak boleh bagi wanita
      berhaji tanpa muhrimnya, walaupun dengan jamaah
      perempuan lainnya.

      – Tetapi apabila musafir itu dalam waktu yang singkat,
      sebahagian ulama membolehkannya. Mereka
      berpatokan pada kejadian sahabiah istri Zubair yang
      perginya ke sebahagian kota-kota, dan negara, dan
      terpelihara keamanannya.

      ( Asyaikh Muhammad bin Ibrahim ).

      Sebagai pelengkap:

      Dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, telah bersabda.

      “Artinya : Tidak diperbolehkan seorang wanita bepergian selama tiga hari melainkan bersamanya ada seorang muhrim”. [Hadits Riwayat Muttafaqun ‘alaihi]

      Dan dari Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

      “Artinya : Tidak diperbolehkan seorang wanita bepergian selama dua hari melainkan bersamanya seorang muhrim darinya atau suaminya”. [Hadits Riwayat Muttafaqun ‘alaihi]

      Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda.

      “Artinya : Tidak boleh bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk bepergian menempuh perjalanan satu hari melainkan bersamanya seorang muhrimnya”. [Hadits Riwayat Muttaffaqun ‘alaihi]

      Dan dari Ibnu Abbas Radhiyalahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda. “Tidak diperbolehkan seorang wanita bepergian melainkan bersamanya seorang wanita”.

      Lalu ada seorang yang berkata. “Wahai Rasulullah, isteriku keluar rumah untuk menunaikan ibadah haji dan aku bertugas di perang ini dan ini”.

      Beliau pun bertutur. “Pergi dan berhajilah bersama isterimu”. [Hadits Riwayat Muttafaqun ‘alaihi]

      Dalam riwayat lain disebutkan.

      “Artinya : Janganlah wanita bepergian selama tiga hari kecuali bersama mahramnya”.

      Dalam setiap kondisinya, wanita Muslimah harus selalu mengikuti langkah-langkah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, berusaha semampunya melaksanakan perintah-perintah beliau dan menjauhi apa yang dilarangnya.

      Perkataan beliau, “La Yakhilu”, maksudnya “La Yajuzu”, tidak diperbolehkan. Perkataan beliau, “Bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhirat”, menurut sebagian ulama, pengertiannya bahwa larangan tersebut hanya dikhususkan bagi wanita Mukminah, tidak termasuk wanita-wanita kafir. Pendapat ini disanggah bahwa imanlah yang terus menerus menjadi seruan pembuat syari’at terhadap orang yang memiliki iman itu, sehingga dia dapat mengambil manfaat darinya dan dapat selamat.

      Wahai Ukhti Muslimah …!

      Islam yang hanif menghendaki untuk melindungi wanita dan menjaganya dengan berbagai cara serta sarana, yang pada akhirnya ada manfaat yang kembali kepada wanita tersebut. Dari uraian ini kita bisa mengambil beberapa faidah di antaranya.

      Diharamkannya wanita bepergian selain haji dan umrah tanpa disertai mahram atau suaminya. Ini menurut pendapat fuqaha, asalkan ada jaminan kemanan bila disertai wanita lain yang dapat dipercaya. Pendapat ini berbeda dengan pendapat orang yang mensyaratkan mahram atau suami.
      Perhatian Islam terhadap wanita untuk menjaganya, tidak memancing kekhawatiran apabila ada gangguan terhadap dirinya.
      Imam Nawawi Rahimahullah mengatakan [Syarhu Shahihi Muslim, III/484]

      “Yang jelas, segala macam bentuk bepergian (safar) dilarang bagi seorang wanita tanpa dibarengi oleh suami atau muhrimnya, baik itu selama satu, dua maupun tiga hari atau bepergian singkat dan lain sebagainya, hal itu didasarkan pada hadits dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu di atas”.

      Kesimpulannya ialah tidak boleh, baik dalam kondisi apapun. Namun, wanita boleh pergi Naik Haji bersama Ibunya atau saudara kandungnya, disaat menunaikan haji yang pertama yang hukumnya Wajib bagi yang mampu, apabila menanuaikan Haji yang ke dua kali, maka itulah yang dilarang apabila bepergian tanpa Muhrim, sebab menunaikan Haji yang ke dua kali tidak lagi wajib, tetapi sunnah.

      Wallhua’lam Bisshawab.

      Wassalamu’alaykum Wr.Wb

  2. zubaidah binti muhammad siddiq
    Januari 21, 2010 pukul 10:22 am

    Assalamu’alaikum wr. wb.
    Alhamdulillah… ana mendapat jawaban sekaligus ilmu yang bermanfaat dari uneg-uneg ana selama ini. Semasa sekolah dan kuliah, ana sering safar sendiri karena mahrom ana (ayah) sudah berpulang ke Rahmatulloh. Semoga penjelasan tentang mahrom ini menjadi jalan pertolongan Alloh bagi para akhwat pada umumnya dan diri ana pribadi pada khususnya. Amiin.
    jazakalloh khoiron katsir…
    Wassalamualaikum wr. wb.

    • z4nbh1
      Januari 21, 2010 pukul 11:25 am

      Wa’alaykumsalam Wr.Wb

      Insya Allah, amin… 🙂

      • soffian
        Desember 14, 2010 pukul 3:44 am

        maaf,
        sya mw tanya apa perbedaan antara muhrim dengan mahrom?
        saya prnah bca klw muhrim itu adalah istilah untuk org yg sdang berihram..
        bnr g y?

      • jundullah
        Desember 16, 2010 pukul 12:23 am

        Assalamu’alaykum. kalo Muhrim benar merupakann istilah untuk pasangan yang ingin pergi naik Haji maupun Umroh, sementara Mahrom adalah saudara atau keluarga dekta kita! Allahu’alam…!!!🙂

  3. Yanie
    April 29, 2010 pukul 7:50 am

    Assalamu’alaikum wr. Wr
    saya tidak punya orang tua lagi,keluarga saya tinggal adik laki2 dan sudah berkeluarga sedangkan saya sendiri belum berkeluarga. Ibu saya meninggal dunia 3 hari sebelum keberangkatannya ke tanah suci karena Tsunami.Saya berniat menaikkan haji ortu.yang ingin saya tanyakan adalah :
    1.apakah saya harus naik haji dulu sebelum menaikkan haji mereka?
    2.bisakah menaikkan haji dengan niat u orang tua?
    3.dana yg ada cuma bisa untuk saya saja,bolehkah saya pergi dengan kelompok haji yg ada wanitanya?bukankah itu muhrim kita juga?
    mohon jawabannya ya,sebelumnya saya ucapkan terimakasih

    • jundullah
      April 29, 2010 pukul 3:44 pm

      Wa’alaykumsalam Warahmatullah Wabarakatuh
      🙂

      Sebaiknya berkeluargalah terlebih dahulu, jika kita benar – benar ingin bertaqwa kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Disamping kita mencari pasangan untuk mendampingi kita, disamping itu juga kita bisa mengumpulkan dana untuk menunaikan Ibadah Haji!

  4. ardian
    Mei 11, 2010 pukul 2:13 pm

    aslkum, ust, ada yang mengganjal hati saya beberapa hari trakhir ini,,
    masalahnya yakni, ayah saya brangkat umroh gratis yang difasilitasi salah satu prusahaan swasta,dan ada seorang wanita yang juga brangkat umroh gratis, tetapi dia tidak membawa muhrim. namun oleh pihak travel, mereka ( ayah dan wanita) itu di jadikan sebagai muhrim dengan alasan agar bisa brangkat intinya mereka berbohong tentang status mereka,
    yang saya tanyakan, diperbolehkan kah hal semacam itu(mengaku sebagai muhrim padahal bukan?)
    bagaimana dengan ibadahnya ? sah atau tidak?
    jazakallah ust atas penjelasannya,,

  5. brilliant winona
    Juli 3, 2010 pukul 12:25 pm

    assalamu’alaikum wr wb…

    ustd, saya sangand dibuat bingung diantara 2 pilihan.
    saya mndapat beasiswa pertukaran pelajar ke amerika serikat.
    saya benar2 menginginkannya, ktika saya telah mndapatkannya, saya baru tau bahwa wanita dilarang bepergian tanpa mahrom melebihi 3 hari…
    tapi jalan saya bnar2 sudah di dpan mata, apa yg saya inginkan sejak dulu sudah didepa mata…
    saya tau itu dilarang, tapi nafsu masih belum bisa menerima…
    orang tua, keluarga, skolah, tman tman, smua sudah tau…
    mnurut ustad apa yang harus saya lakukan?
    saya benar2 ingin kesana…

    • jundullah
      Juli 3, 2010 pukul 2:02 pm

      Wa’alaykumsalam Warahmatullah Wabarakatuh, sebelumnya untuk panggilan, panggil saja zanbhi atau zain, sebab Ust belumlah pantas buat ana, sebab disini kita sama – sama masih belajar, lebih tepatnya sama – sama ingin mengetahui Ilmu Syari’at yang lebih dalam lagi. Mengenai pertanyaan, ana akan coba menjawabnya melalui Artikel yang pernah ana baca:

      Jawaban pertanyaan buat Saudara Ardian dan Saudari Brilliant Winona:

      DIANGAP MAHROM PADAHAL BUKAN

      Disebabkan keegohan dalam mendalami ilmu agama Islam dan IPTEK, maka banyak kita jumpai adanya beberapa anggapan keliru dalam mahrom. Otomatis berakibat fatal, orang-orang yang sebenarnya bukan mahrom dianggap sebagai mahromnya. Sangat ironis memang, tapi demikianlah kenyataannya. Oleh karena itu dibutuhkan pembenahan secepatnya.

      Berikut ini beberapa orang yang dianggap mahrom tersebut:

      [1]. Ayah Dan Anak Angkat.
      Hal ini berdasarkan firman Allah :
      “Dan Allah tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu.” [Al-Ahzab: 4]

      [2]. Sepupu (Anak Paman/Bibi).
      Hal ini berdasarkan firman Allah setelah menyebutkan macam-macam orang yang haram dinikahi:

      “Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian. [An-Nisa’: 24]

      Menjelaskan ayat tersebut, Syaikh Abdur Rohman Nasir As-Sa’di berkata:

      ” Hal itu seperti anak paman/bibi (dari ayah) dan anak paman/bibi (dari ibu)”. [Lihat Taisir Karimir Rohman hal 138-139]

      [3]. Saudara Ipar.
      Hal ini berdasarkan hadits berikut:
      “Waspadailah oleh kalian dari masuk kepada para wanita, berkatalah seseorang dari Anshor: “Wahai Rasulullah bagaimana pendapatmu kalau dia adalah Al-Hamwu (kerabat suami)? Rasulullah bersabda; “Al-Hamwu adalah merupakan kematian”. [HR Bukhori; 5232 dan Muslim 2172]

      Imam Baghowi berkata; ” Yang dimaksud dalam hadits ini adalah saudara suami (ipar) karena dia tidak termasuk mahrom bagi si istri. Dan seandainya yang dimaksud adalah mertua padahal ia termasuk mahrom, lantas bagaimanakah pendapatmu terhadap orang yang bukan mahrom?” Lanjutnya: “Maksudnya, waspadalah terhadap saudara ipar sebagaimana engkau waspada dari kematian”.

      [4]. Mahrom Titipan.
      Kebiasaan yang sering terjadi, apabila ada seorang wanita ingin bepergian jauh seperti berangkat haji, dia mengangkat seorang lelaki yang ‘berlakon’ sebagai mahrom sementaranya. Ini merupakan musibah yang sangat besar. Bahkan Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani menilai dalam Hajjatun Nabi (hal 108) ; “Ini termasuk bid’ah yang sangat keji, sebab tidak samar lagi padanya terdapat hiyal (penipuan) terhadap syari’at. Dan merupakan tangga kemaksiatan”.

      WANITA DENGAN MAHROMNYA

      Setelah memahami macam-macam mahrom, perlu diketahui pula beberapa hal yang berkenaan tentang hukum wanita dengan mahromnya adalah:

      [1]. Tidak Boleh Menikah
      Allah berfirman :
      “Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruknya jalan (yang ditempuh). saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isteri kamu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya;(dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu);,dan menghimpunkan (dalam perkawinan)dua perempuan yang bersaudara,kecuali yang telah terjadi pada masa lampau sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, [An-Nisa’ :22-23]

      [2]. Boleh Menjadi Wali Pernikahan
      Wali adalah syarat saya sebuah pernikahan, sebagaiman diriwayatkan oleh ‘Aisyah radliyallahu ‘anha bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda:

      “Siapa saja wanita yang menikah tanpa izin walinya, maka nikahnya batil (tidak sah), maka nikahnya batil, maka nikahnya batil.” [HSR Abu Daud 2083, lihat Irwaul Golil 6/243]

      Juga riwayat dari Abi Musa Al Asy’ari berkata Rasulullah shallallahu ‘alaih wassallam bersabda :

      “Tidak sah nikah kecuali ada wali. [HSR Abu Daud 2085,lihat Irwaul Gholil 6/235]

      Berkata Imam At-Tirmidzi: “Yang diamalkan oleh para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam dalam masalah wali pernikahan adalah hadits ini, diantaranya adalah Umar bin Khothob, Ali bin Abi Tholib, Ibnu Abbas, Abu Hurairah dan juga selain mereka.” [Lihat Sunan Tirmidzi 3/410 Tahqiq Muhammad Fu’ad Abul Baqi]

      Namun tidak semua mahrom berhak menjadi wali pernikahan begitu juga sebaliknya tidak semua wali itu harus dari mahromnya. Contoh wali yang bukan dari mahrom seperti anak laki-laki paman (saudara sepupu laki-laki), orang yang telah memerdekakannya, sulthon. Adapun Mahrom yang tidak bisa menjadi wali seperti karena sebab mushoharoh.

      [3]. Tidak Boleh Safar (Bepergian Jauh) Kecuali Dengan Mahromnya
      Banyak sekali hadits yang melarang wanita mengadakan safar kecuali dengan mahromnya, diantaranya:

      Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu berkata: Berkata Rasulullahu shallallahu ‘alahi wassallam: “Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk mengadakan safar lebih dari tiga hari kecuali bersama ayah, anak laki-laki, suami, saudara laki-laki atau mahrom lainnya.” [HR Muslim 1340]

      Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma dari Rasulullahu Shallallahu ‘alaihi wassallam berkata: ” Janganlah seorang wanita muslimah bepergian selama dua hari kecuali bersama suaminya atau mahromnya.” [HR Ibnu Khuzaimah: 2522]

      Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bersabsa Rasulullahi Shallallahu ‘alaihi wassallam : “Tidak halal bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk mengadakan safar sehari semalam tidak bersama mahromnya.” [HR Bukhori: 1088, Muslim 1339]

      Dari beberapa hadits ini, kita ketahui bahwa terlarang bagi wanita muslimah untuk mengadakan safar kecuali bersama mahromnya, baik safar itu lama ataupun sebentar. Adapun batasan beberapa hari yang terdapat dalam hadits di atas tidak dapat di fahami sebagai batas minimal.

      Berkata Syaikh Salim Al Hilali: “Para Ulama’ berpendapat bahwa batasan hari dalam beberapa hadits di atas tidak dimaksudkna untuk batasan minimal. Dikarenakan ada riwayat yang secar umum melarang wanita safar kecuali bersama mahromnya, baik lama maupun sebentar, seperti riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata: Saya mendengar Rasulullahi Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda:

      “Jangan seorang laki-laki berkholwat (berduaan) dengan seorang wanita kecuali bersama mahromnya, juga jangan safar dengan wanita kecuali bersama mahromnya, maka ada seorang lelaki berdiri lalu berkata :

      “Wahai Rasulullah, sesungguhnya istri saya pergi haji padahal saya ikut dalam sebuah peperangan. Maka Rasulullah menjawab: “Berangkatlah untuk berhaji dengan istrimu.”[HR Bukhori: 3006,523, Muslim 1341, Lihat Mausu’ah Al Manahi Asy Syari’ah 2/102]

      Berkata Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah: “Kebanyakan ulama’ memberlakukan larangn ini untuk semua safar karena pembatasn yang terdapat dalam hadits-hadits tersebut sangat berbeda-beda.” [Lihat Fathul Bari 4/75]

      Syaikh sholeh Al Fauzan Hafidzuhullah ditanya tentang hukum wanita safar dengan naik pesawat domestik dalam negeri tanpa mahrom, apakah itu diperbolehkan? Jawab beliau: “Tidak boleh bagi seorang wanita mengadakan safar tanpa mahrom, baik naik pewasat atau mobil, karena Rasulullahi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Tidak halal bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir mengadakan safar sehari semalam kecuali bersama mahrom.” Maka safar wanita tanpa mahrom itu tidak boleh meskipun dengan alat transportasi yang cepat, karena pesawat atau mobil itu mungkin saja bisa terlambar, rusak, atau terjadi hal-hal lain yang mengharuskan wanita itu harus bersama mahromnya agar bisa menjaganya saat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.” [Al Muntaqo min Fatwa Syaikh Sholeh Al Fauzan 5/387]

      [4]. Tidak Boleh Kholwat (Berdua-Duaan) Kecuali Bersama Mahromnya

      [5]. Tidak Boleh Menampakkan Perhiasannya Kecuali Kepada Mahromnya

      [6]. Tidak Boleh Berjabat Tangan Kecuali Dengan Mahromnya

      Jabat tangan dengan wanita di zaman ini sudah menjadi sesuatu yang lumrah, padahal Rasullah shallallahu ‘alaihi wassallam sangat mengancam keras pelakunya: Dari Ma’qil bin Yasar radhyallahu ‘anhu :

      Bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam: “Seandainya kepala seseorang di tusuk dengan jarum dari besi itu lebih baik dari pada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (Hadits hasan riwayat Thobroni dalam Al-Mu’jam Kabir 20/174/386 dan Rauyani dalam Musnad: 1283 lihat Ash Shohihah 1/447/226)

      Berkata Syaikh Al Albani rahimahullah: “Dalam hadits ini terdapat ancaman keras terhadap orang-orang yang menyentuh wanita yang tidak halal baginya, termasuk malsaha berjabat tangan, karena jabat tangan itu termasuk menyentuh.” [Ash Shohihah 1/448]

      Dan Rasulullahi Shallallahu ‘alaihi wassalam tidak pernah berjabat tangan dengan wanita, meskipun dalam keadaan-keadaan penting seperti membai’at dan lain-lain.

      Dari Umaimah bintih Ruqoiqoh radhiyallahu ‘anha: Bersabda Rasulullahi Shallallahu ‘alaihi wassallam: “Sesungguhnya saya tidak berjabat tangan dengan wanita.” [HR Malik 2/982, Nasa’i 7/149, Tirmidzi 1597, Ibnu Majah 2874, ahmad 6/357, dll]

      Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha: “Demi Allah, tangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam tidak pernah menyentuh tangan wanita sama sekali meskipun dalam keadaan membai’at. Beliau tidak memba’iat mereka kecuali dengan mangatakan: “Saya ba’iat kalian.” [HR Bukhori: 4891]

      Keharaman berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahromnya ini berlaku umum, baik wanita masih muda ataupun sudah tua, cantik ataukah jelek, juga baik jabat tangan tersebut langsung bersentuhan kulit ataukah dilapisi dengan kain.

      Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah pernah ditanya tentang hal tersebut, maka beliau menjawab: Tidak boleh berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahromnya secara mutlak, baik wanita tersebut masih muda ataukah sudah tua renta, baik lelaki yang berjabat tangan tesebut masih muda ataukah sudah tua, karena berjabat tangan ini bisa menimbulkan fitnah. Juga tidak dibedakan apakah jabat tangan ini ada pembatasnya atau tidak, hal ini dikarenakan keumuman dalil (larangan jabat tangan), juga untuk mencegah timbulnya fitnah”. [Fatawa Islamiyah 3/76 disusun Muahmmad bin Abdul Aziz Al Musnid]

      Semoga bisa diterima dan bermanfa’at buat kita semua terutama buat ana yang faqir akan Ilmu Allah ini, Walloh subhanahu wa ta’alau A’lam.

      Oleh: Ahmad Sabiq bin Abdul Latif dengan sedikit editan dari Admin AAQ

      Wassalamu’alaykum Warahmatullah Wabarakatuh

  6. syabab
    Oktober 24, 2010 pukul 2:44 pm

    salam ya akhi..
    Bagaimana pula jika isteri saya berkeinginan yg kuat untuk mengerjakan haji untuk pertama kalinya dalam tahun ini, tetapi saya tidak. Dan saya telah mengizinkan isteri saya untuk bermusafir haji. Alasan saya :

    1- Sudah hajian tahun yg lalu
    2- Kekurangan dana iaitu dana itu digunakan untuk perancangan yg lain
    3- kesanggupan untuk menjaga anak setelah isteri safar haji

    Jadi, bolehkah isteri saya berhaji tanpa saya?

    • jundullah
      Oktober 25, 2010 pukul 1:20 pm

      Wa’alaykumsalam… kalo kita melihat dari penjelasan diatas, apapun alasannya, hukumnya tetap tidak boleh kalau kita benar2 ingin menjalankan perintah-Nya….!!! Sebab wanita yang bepergian tanpa Muhrim sangatlah bertentangan dng Syari’at! Alangkah lebih jelasnya, coba konsultasi lagi ke yang lebih paham… karena kita semua disini masih dalam tahap proses pembelajaran, tentu didasari dng Al Qur’an dan As Sunnah!!! Wallahu’alam…!!!🙂

  7. Oktober 9, 2014 pukul 6:37 am

    assalamaualaikum wr wb, afwan..mw tanya..saya seorang wanita single saya rencananya mau berangkat umroh insya Allah bulan desember ini sudah mendaftar dan saya berangkatnya sendirian bersama rombongan jamaah yang lain. saya masih memiliki ayah dan seorang adik laki-laki, namun belum bisa melaksanakan bersama salah satu dari mereka terkendala biaya. Dan keinginan saya untuk melaksanakan umroh tahun ini sangat besar mengingat ibu dan adik perempuan saya sudah meninggal dunia dan saya ingin membadalkan umroh untuk mereka karena ibu saya sebelum meninggal dunia ingin melaksanakan umroh..bolehkah saya berangkat seorang diri, terimakasih sebelumnya

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: