Beranda > Artikel, Dakwah > Kisah Dakwah: Di dalam perut ikan

Kisah Dakwah: Di dalam perut ikan

Setiap orang pasti akan mengingat Allah di saat kesulitan, akan tetapi diantara mereka ada yang mengingat dan mentaati-Nya, tapi jika kesulitan itu telah hilang ia kembali berbuat maksiat dan melupakan Allah, dan diantara mereka ada juga yang tetap dalam keshalihan dan taubatnya.

Yunus Alaihi Salam, dia telah menyeru kaumnya untuk beriman, akan tetapi mereka berpaling dan sombong, lalu ia marah dan berlayar bersama kapal, maka ketika kapal itu kelebihan beban mereka takut jika semuanya tenggelam, maka meraka tahu beban kapal tersebut harus dikurangi dengan cara melemparkan salah seorang penumpangnya kelaut, mereka berkali-kali mengundi akan tetapi yang keluar selalu Yunus Alaihi Salam, akhirnya beliau dilemparkan kelautan, semuanya berjalan dengan sangat cepat, Yunis Alaihi Salam berada dalam kegelapan, ia berusaha mendengar apa yang disekitarnya, tiba-tiba ia mendengar suara bebatuan kecil bertasbih didasar lautan, ia terhentak, lalu menyeru didalam kegelapan:

لأاله الأ أنت سبحا نك اني كنت من الضا ليمن

“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau, Maha Suci Engkau, Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menganiaya diri sendiri”

Maka kata-katanya mengetuk pintu-pintu langit, lalu turunlah kelapangan baginya, Ini adalah kisah Yunus Alaihi Salam, seorang Nabi….

Adapun Yunus masa kini maka ia berkata: “aku adalah seorang pemuda yang menyangka bahwa kehidupan ini adalah harta melimpah, tempat pembaringan yang nyaman, dan kendaraan yang luks”

Hari itu adalah hari jum’at, aku duduk bersama sekelompok teman-teman latihan dipinggir pantai, mereka sebagaimana umumnya adalah sekumpulan hati-hati yang lalai, aku mendengar panggilan:

حيّ علي اصبلأ ة…….. حيّ علي الفلأح………..

(“Marilah shalat, marilah menuju kemenangan”)

Aku bersumpah bahwa aku selalu mendengar adzan sepanjang hidupku selama ini, akan tetapi aku tidak pernah faham barang sehari pun arti dari kata falaah (keberuntungan), syetan telah telah menutup hatiku, sehingga seolah-olah kata-kata adzan tersebut diucapkan dengan bahasa yang tidak aku fahami, orang-orang disekitar kami menggelar sajadah-sajadah mereka dan berkumpul untuk shalat, sedangkan kami mempersiapkan perlengkapan menyelam dan selang udara, sebagai persiapan untuk rihlah (rekreasi) didalam air, kami telah memakai perlengkapan menyelam, dan masuk kedalam laut, kami sudah menjauh dari pantai, hingga kami berada didalam perut lautan.

Segalanya berjalan sesuai dengan yang diharapkan, rihlah tersebut sangat indah, dan dalam luapan kesenangan, tiba-tiba katup karet yang biasany aditutup oleh para penyelam dengan gigi-gigi dan kedua bibir mereka untuk mencegah masuknya air kedalam mulut itu pecah, padahal katup itu gunanya untuk menyuplai udara dari selang.

Pecah disaat masuknya udara keparu-paruku, tiba-tiba tetesan air laut yang asin menutup saluran pernapasanku, dan aku mulai sekarat, paru-paruku sangat sesak dan serasa berteriak menginginkan udara, udara pada saja, aku mulai goyang, lautan sangat gelap, sementar teman-temanku jauh dariku, Aku mulai menyadari betapa gentingnya kondisi seperti ini, aku akan mati, aku mulai tedesak dan menelan air asin, saat itu pita rekaman kehidupanku mulai berjalan didepan mataku, bersama sedakan pertama, aku tahu betapa lemahnya aku beberapa tetes air asin Allah kuasakan atas diriku untuk memperlihatkan kepadaku bahwa Dialah Yang Maha Kuat dan Maha Perkasa.

Aku percaya bahwa tidak ada tempat berlindung dari hukuman Allah kecuali pada-Nya jua, aku berupaya sekuat tenaga untuk bergerak dengan cepat agar keluar dari air, akan tetapi posisiku sangat jauh di kedalaman laut, masalahnya bukan aku akan mati, tetapi bagaimana aku akan berjumpa dengan Allah nanti?!, jika Dia bertanya kepadaku tentang perbutanku, maka apa yang harus aku katakan?, adapun yang akan dihisab pertama kali dariku yaitu shalat, maka aku telah menyia-nyiakannya.

Aku teringat dengan dua kalimat syahadat, maka aku ingin agar kehidupanku diakhiri dengannya, lalu aku ucapkan, “Asyha…” tenggorokanku tersumbat, seolah-olah sebuah tangan tersembunyi menutup leherku untuk mencegahku dari mengucapkan dua kalimat tersebut.

Aku bersuara keras, “Asyha.. Asyha..” Hatiku mulai berteriak, “Ya Robbi kembalikanlah aku…. Barang sesaat…semenit…sedetik”… akan tetapi alangkah jauhnya.

Aku mulai kehilangan kesadaran total, kegelapan yang sangat aneh telah meliputiku, ini adalah yang terakhir kali aku ingat.

Akan tetapi kasih sayang Tuhanku sangatlah luas, tiba-tiba udara meresap keparu-paruku sekali lagi, kegelapan mulai hilang, aku membuka mataku, ternyata salah seorang kawan memasukkan selang udara kemulutku, berupaya untuk membuatku membuatku bernafas kembali, sedangkan kami masih didalam perut lautan, aku melihat senyuman diwajahnya, aku menangkap dari senyuman itu bahwa aku tertolong, maka ketika itu hatiku, lisanku dan seluruh sel dipersendianku berteriak:

أشهد انّ لأاله الأالله وأشهد أنّ مهمّدا رسول الله

“Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu utusan Allah”

Alhamdulillah, aku telah keluar dari air, dan aku kini menjadi orang yang lain, pandanganku  terhadap kehidupan berubah, kian hari aku semakin bertambah dekat kepada Allah, aku mulai faham rahasia keberadaanku dialam ini, aku teringat akan firman Allah:

الأليعبدن

“…Kecuali untuk beribadah kepada-Ku”

Benar dia tidaklah menciptakan kita secara sia-sia, hari-hari telah berlalu, aku teringat dengan kejadian tersebut, lalu untuk pergi kelaut, aku kenakan pakaian selam, lalu aku mulai mendekati air sendirian dan menuju ke tempat yang dulu didalam perut lautan, dan aku bersujud kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan sebuah sujud yang seingatku belum pernah aku bersujud seperti itu didalam hal khusyu’nya, di tempat yang aku mengira tidak ada seorangpun sebelumku yang pernah bersujud kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, disitu….semoga tempat itu menjadi saksi untukku pada hari kiamat. Kiranya Allah merahmatiku dengan memasukkanku ke dalam surga-Nya dengan sujudku didalam perut lautan tersebut, Allahumma Aamiin…..

Share This Post:

Bookmark and Share

Kategori:Artikel, Dakwah
  1. WIWIN WULANDARI S.T
    Januari 4, 2010 pukul 3:31 pm

    saya sangat berterimakasih atas file yang telah dikirimkan. seakan membuka kembali pintu keimananku yang perlahan-lahan mulai tertutup oleh keduniawian

    • z4nbh1
      Januari 4, 2010 pukul 4:10 pm

      Sama – sama Win, sudah menjadi tugas sesama Muslim untuk saling mengingatkan…🙂

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: