Beranda > Al Islam, Artikel, Jihad Fi Sabilillah > Mati Syahid di Atas Tempat Tidur

Mati Syahid di Atas Tempat Tidur

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : “مَنْ سَأَلَ اللَّهَ الشَّهَادَةَ صَادِقًا بَلَّغَهُ اللَّهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ”.

Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa yang berdoa kepada Allah dengan benar untuk mendapatkan mati syahid, maka Allah akan menyampaikannya kedudukan para syuhada walau pun dia mati di atas tempat tidur”. (H.R. Muslim)

Kata syahadah dalam Bahasa Arab memiliki banyak makna, diantara maknanya adalah mati syahid di jalan Allah, dan inilah yang dimaksud dari hadits di atas.

Dalam hadits ini dijelaskan bahwa apabila kita memohon kepada Allah SWT agar diberikan kemuliaan berupa mati syahid, maka kita akan diberikan pahala seperti orang yang mati syahid walaupun pada akhirnya kita tidak mati di medan tempur melainkan mati di atas tempat tidur. Seperti halnya Khalid bin Walid RA sahabat yang terkenal gagah berani dan dalam hampir setiap pertempuran yang dia alami dan dia pimpin baik sebelum dia masuk Islam atau pun setelah masuk Islam kemenangan selalu diraihnya. Namun di akhir hayatnya Khalid menderita sakit lalu meninggal di atas tempat tidurnya.

Dalam hadits ini juga terdapat anjuran untuk selalu berazam atau berniat melakukan kebaikan diantaranya adalah memohon kepada Allah agar kita bisa mati di jalan Allah SWT, mati dalam peperangan membela agama-Nya. Berarti jalan menuju mati syahid di jalan Allah SWT adalah berjihad di jalan-Nya agar kalimat-Nya menjadi yang paling tinggi dan agama hanya untuk Allah SWT semata, serta mengeluarkan manusia dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam yang terang benderang, menyebarkan agama Islam, menegakkan keadilan, menolak kazaliman dan kerusakan, menjaga kaum muslimin serta menghancurkan musuh dan menolak segala tipu daya mereka.

Pernahkah terlintas dalam benak kita untuk bisa berperang, berjihad dalam arti mengangkat senjata dalam rangka mempertahankan akidah, memelihara agama yang mulia ini serta meninggikan kalimat Allah SWT, meninggikan kalimat tauhid, tidak ada ilah selain Allah SWT.?

Abu Hurairah RA berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda :

مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ بِهِ نَفْسَهُ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ

“Barang siapa yang mati dan belum berperang dan tidak terlintas dalam dirinya untuk berperang, maka dia mati dalam prilaku orang munafik”.(H.R. Muslim)

Adakah dalam diri kita niat atau keinginan untuk mendapatkan mati syahid di jalan-Nya?, atau jiwa kita ini takut akan kematian dan lebih suka kepada dunia dengan segala kegemerlapannya? Sehingga tidak terbersit sedikitpun untuk memiliki cita-cita berjihad dan kemudian akan mendapatkan mati syahid (syahadah).

Orang-Orang kafir, terutama kaum Yahudi dalam memerangi kaum Muslimin dengan potensi dan persenjataan sangat canggih dan paling mutakhir serta jumlah personilnya yang sangat banyak namun mereka tidak akan mampu menghadapi ketegaran dan semangat membaja kaum Muslimin yang mempertahankan akidahnya. Kaum Muslimin, ketika berjihad mereka mencari mati, mencari syahadah (mati syahid), sehingga mereka pun menjadi tidak takut mati.
Membekali Para Mujahidin

Sebenarnya bagi orang yang belum mampu atau belum memiliki kesempatan untuk berangkat ke medan jihad, maka dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang berjihad, yaitu dengan membekali atau membantu orang yang sedang berperang di jalan Allah SWT atau biasa disebut Mujahidin adalah termasuk ikut berjihad.

Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang membekali seorang yang berperang di jalan Allah maka sungguh ia telah ikut berperang…”. (H.R. Bukhari dan Muslim)

Saat ini ada beberapa bumi jihad yang masih terus berlangsung antara para Mujahidin melawan para teroris dan para penjajah serta para agresor. Di palestina misalnya, khususnya di Jalur Gaza. Setelah dibombardir selama 22 hari mereka membutuhkan banyak bantuan mulai dari makanan, pakaian sampai pada berbagai macam persenjataan untuk melindungi bumi palestina yang sampai saat ini masih di jajah dan diduduki oleh zionisl Israel. Bahkan selama ini banyak upaya makar yang dilakukan orang-orang kafir dan para sekutunya dalam menghentikan pasokan senjata agar kaum Muslimin menjadi lemah dan tidak dapat melakukan perlawanan.

Derajat dan Kedudukan Para Mujahidin di Surga

Abu Hurairah RA berkata : Rasulullah SAW bersabda: ” … sesungguhnya di dalam surga terdapat seratus tingkat yang disediakan bagi orang-orang yang berjihad di jalan Allah, jarak antara tingkat yang satu dengan yang lain sama seperti jarak antara langit dan bumi, jikalau kalian meminta surga maka mintalah surga firdaus karena dia marupakan surga yang berada paling utama dan yang paling tinggi, di atasnya terdapat ‘arsy Allah dan darinya mengalir sungai-sungai surga” (H.R. Bukhari).
Keutamaan Mati Syahid di Jalan Allah :

Anas RA meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda : “Tiada seorangpun yang telah masuk surga lalu ingin kembali ke dunia untuk memperoleh sesuatu yang ada di dalamnya kecuali orang yang mati syahid (syuhada). Dia berharap untuk kembali ke dunia sehingga terbunuh kembali (sebagai syahid) sebanyak sepuluh kali, karena apa yang didapatkannya dari kemuliaan (bagi para syuhada).” (H.R Bukhari dan Muslim)

para syuhada diberikan enam kemuliaan sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Sesungguhnya para syuhada mendapatkan enam kemuliaan di sisi Allah : Allah akan mengampuninya pada waktu darahnya keluar pertama kali dari tubuhnya, diperlihatkan untuknya tempat duduknya di surga, diberi hiasan dengan perhiasan iman, dinikahkan dengan tujupuluh dua orang bidadari dari surga, diselamatkan dari siksa kubur, mendapatkan keamanan dari ketakutan yang sangat besar (kegoncangan di padang mahsyar), dipakaikan baginya mahkota kerendahan hati yang sebutir mutiaranya lebih baik dari dunia seisinya, dan diperbolehkan baginya untuk memberikan syafaat bagi tujuhpuluh orang kerabatnya.” (HR. Tirmidzi)

Orang Yang Tergolong Mati Syahid di Jalan Allah

Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Orang yang teramasuk mati syahid terbagi dalam lima golongan, yaitu Orang yang meninggal terkena wabah penyakit tha’un, orang yang mati karena sakit perut, orang yang mati tenggelam, orang yang mati karena tertimpa benda berat, dan orang yang mati karena perang di jalan Allah.” (H.R Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits lain disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Orang yang teramasuk mati syahid selain yang terbunuh di jalan Allah ada tujuh: Orang yang meninggal terkena wabah penyakit tha’un termasuk syahid, orang yang mati karena sakit perut termasuk syahid, orang yang mati tenggelam termasuk syahid, orang yang mati karena tertimpa benda berat termasuk syahid, orang yang mati karena luka (pada bagian dalam tubuh) di daerah sekitar pinggang termasuk syahid, orang yang mati terbakar termasuk syahid, dan wanita yang meninggal karena melahirkan termasuk syahid.” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i)

Sa’id bin Zaid RA berkata, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa yang terbunuh karena membela hartanya maka dia syahid, siapa yang terbunuh karena membela agamanya termasuk syahid, siapa yang mati terbunuh karena membela dirinya termasuk syahid, orang yang terbunuh membela keluarganya termasuk syahid.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Namun mati syahid yang paling tinggi kedudukannya adalah mereka yang terbunuh di jalan Allah. Sabagaimana firman Allah (Q.S. Ali Imran/3 :168-170)

Dalam ayat ini jelas sekali bahwa yang dimaksud dengan syahadah (mati syahid) adalah meraka yang telah berperang di jalan Allah SWT, yaitu untuk menegakkan agama-Nya. Dia berperang bukan untuk mendapatkan harta rapasan perang (ghanimah) atau untuk kepentingan diri dan kelompoknya. Dia berperang hanya untuk meninggikan kalimat Allah SWT.

Seseorang pernah mendatangi Rasulullah SAW lalu dia berkata : “Seorang laki-laki berperang untuk mendapatkan harta rampasan perang (ghanimah), yang lainnya berperang agar terkenal dan yang satunya lagi berperang agar dikatakan sebagai pemberani, siapakah diantara mereka yang berperang di jalan Allah?”. Maka Rasulullah SAW menjawab : “Barang siapa yang berperang agar kalimat Allah menjadi paling tinggi maka dialah yang telah berperang di jalan Allah”.(H.R. Bukhari)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata : “Apabila kamu berperang demi mempertahankan negerimu karena dia adalah negeri Islam dan kamu ingin melindunginya lantaran dia negeri Islam, maka inilah yang debut dengan perang di jalan Allah. Karena kamu berperang agar kalimat Allah menjadi tinggi lagi mulia”.

Pernahkanh kita melantunkan kalimat Al-mautu fi sabilillah asma amanina, mati di jalan Allah adalah cita-cita kami tertinggi?.

Al-Imam Al-Syahid Hasan Al-Banna, pendiri Jamaah Al-Ikhwan Al-Muslimun (IM) di Mesir dalam Majmu’ah Al-Rasail menyebutkan dalam pembahasan doa-doa ma’tsurat, sebelum menutup doanya mengajarkan kepada para anggotanya agar membaca doa rabithah yang diantara isinya dalah permohonan kepada Allah SWT agar bisa mati di jalan Allah. Sehingga banyak para aktifis dakwah membaca doa rabithah ini setelah membaca dzikir dan doa ma’tsurat yang Al-Syahid susun.

Semoga kita diberikan kemuliaan mendapatkan syahadah (mati syahid), dan semoga saudara-saudara kaum Muslimin kita khususnya di Jalur Gaza yang menjadi korban kebiadaban tentara teroris Israel dicatat oleh Allah SWT sebagai para syuhada. Amien ya Rabbal ‘alamien

Wallahu a’lam bishshsawab

____________________________________________________________
Share This Post:

Bookmark and Share

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: