Beranda > Al Islam, Jihad Fi Sabilillah > Hadits Ghulam: Mengorbankan Diri untuk Tegaknya Tauhid

Hadits Ghulam: Mengorbankan Diri untuk Tegaknya Tauhid

Sesunguhnya dasar utama Islam adalah dua kalimat syahadat. Yaitu Asyhadu an Laa Ilaaha Illallaah wa Asyhadu anna Muhammadan Rasuulullaah (Aku bersaksi tiada tuhan -yang berhak diibadahi- kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah). Seseorang sudah dianggap masuk Islam dengan mengikrarkan dua kalimat ini.

Dua kalimat syahadat ini tidak bisa dipisahkan satu dari yang lainnya. Syahadat La Ilaha Illallah tidak sempurna, bahkan tidak syah, tanpa menyatakan syahadat Muhammad Rasulullah.

Di antara makna Syahadat Muhammad Rasulullah adalah meyakini dan mengakui dengan benar bahwa Muhammad adalah hamba dan utusannya kepada manusia secara keseluruhan. Dan keyakinan dan pengakuan ini menuntut empat perkara:

  1. Membenarkan kabar beritanya.
  2. Mentaati apa yang diperintahnya.
  3. Menjauhi apa yang dilarang dan yang dicelanya.
  4. Beribadah kepada Allah dengan apa yang disyariatkannya.

Pembenaran kabar berita dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mencakup pemberitaan tentang perkara-perkara yang telah berlalu, yang sedang terjadi di masa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan yang akan terjadi. di masa depan Semua itu bukan berasal dari diri beliau sendiri, tapi karena pemberitaan dari Allah Ta’ala.

Firman Allah Ta’ala:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى

Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. an-Najm, 3-4)

ذَلِكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهِ إِلَيْكَ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يُلْقُونَ أَقْلَامَهُمْ أَيُّهُمْ يَكْفُلُ مَرْيَمَ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يَخْتَصِمُونَ

Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang kami wahyukan kepada kamu (Ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa.” (QS. Ali Imran: 44)

تِلْكَ مِنْ أَنْبَآءِ الْغَيْبِ نُوْحِيْهَا إِلَيْكَ مَا كُنْتَ تَعْلَمُهَا أَنْتَ وَلَا قَوْمُكَ مِنْ قَبْلِ هَذَا فَاصْبِرْ إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِيْنَ

Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang ghaib yang kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; Sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Huud: 49)

وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوْءُ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيْرٌ وَبَشِيْرٌ لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ

Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” (QS. al-A’raf: 188)

Hadits Ghulam

Di antara kabar berita tentang perkara-perkara yang telah berlalu adalah hadits Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kisah ghulam (seorang remaja) yang mengorbankan dirinya untuk memperjuangkan dienullah, menegakkan tauhid, dan meninggikan kalimat-Nya.

* * * *

Diriwayatkan oleh sahabat Shuhaib rahimahullah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dahulu kala, pada umat sebelum kalian, ada seorang raja yang mempunyai seorang ahli sihir. Ketika ahli sihir itu sudah lanjut usia, ia berkata kepada sang raja:

إِنِّي قَدْ كَبِرْتُ فَابْعَثْ إِلَيَّ غُلامًا  أُعَلِّمُهُ السِّحْرَ

“Sungguh aku telah tua, oleh karena itu kirimkan seorang pemuda kepadaku untuk kuajari ilmu sihir.”

Maka sang rajapun mengirimkan seorang ghulam kepadanya yang akan ia ajari ilmu sihir.

Dan ketika di jalan yang dilaluinya menuju tukang sihir, ia bertemu dengan seorang ahli ibadah (rahib). Lalu ghulam itu duduk di dekatnya dan mendengarkan ucapannya yang membuatnya kagum.

Setiap kali mendatangi tukang sihir, ia selalu melewati si rahib itu dan singgah di tempatnya. Ketika ia sampai kepada tukang sihir, tukang sihir itu memukulnya. Maka peristiwa itu diberitahukan kepada sang rahib, lalu rahib itu berkata:

إِذَا خَشِيْتَ السَّاحِرَ فَقُلْ حَبَسَنِي أَهْلِي ، وَإِذَا خَشِيْتََ أَهْلََكَ فَقُلْ حَبَسَنِي السَّاحِرَ

“Jika kamu takut pada tukang sihir, maka katakan: keluargaku menahanku. Dan jika kamu takut pada keluargamu, maka katakan: tukang sihir telah menahanku.”

Ketika dalam rutinitasnya itu, di tengah perjalanannya, tiba-tiba ia bertemu dengan seekor binatang yang  besar yang menghalangi jalan orang. Maka ia berkata:

اَلْيَوْمَ أَعْلَمُ السَّاحِرَ أَفْضَلُ أَمِ الرَّاهِبُ أَفْضَلُ

“Hari ini, aku akan tahu, apakah tukang sihir yang lebih utama (benar) ataukah sang rahib?.”

Kemudian ia mengambil sebuah batu seraya berkata:

اَللّهُمَّ إِنْ كَانَ أَمْرُ الرَّاهِبِ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ أَمْرِ السَّاحِرِ فَاقْتُلْ هَذِهِ الدَّابَةَ حَتَّى يَمْضِي النَّاسُ

“Ya Allah, jika ajaran  sang rahib lebih engkau sukai daripada ajaran tukang sihir, maka bunuhlah binatang ini agar orang-orang dapat melanjutkan perjalanan mereka.”

Kemudian ia melemparkan batu itu sehingga dapat membunuh binatang tersebut dan orang-orang pun dapat melanjutkan perjalanan mereka.

Selanjutnya, ghulam tadi mendatangi sang rahib dan menceritakan peristiwa tersebut. Maka sang rahib berkata padanya: “Wahai anakku sekarang engkau lebih baik dariku. Sebab urusanmu telah sampai pada tarap sang kusaksikan. Dan sungguh engkau kelak akan diuji. Jika engkau diuji, janganlah engkau tunjukkan keberadaanku pada mereka.”

Ghulam itu mulai mampu mengobati penyakit buta, kusta dan mampu menyembuhkan segala macam penyakit.

Pada suatu hari, orang kepercayaan sang raja yang buta mendengar berita tersebut. Lalu ia mendatangi pemuda itu dengan membawa hadiah yang banyak. Dia berkata: “Semua yang ada di sini akan menjadi milikmu jika engkau berhasil menyembuhkan penyakitku.”

Pemuda itu menjawab:

إِنِّي لَا أَشْفِي أَحَدًا ، إِنَّمَا يَشْفِي اللهُ تَعَالَى ، فَإِنْ آمَنْتَ بِاللهِ تَعَالَى دَعَوْتُ اللهَ فَشَفَاكَ

“Sesungguhnya aku tidak dapat menyembuhkan seorangpun. Sebenarnya yang mampu menyembuhkan hanya Allah Ta’ala. Jika engkau beriman kepada Allah, aku akan berdoa kepada-Nya agar menyembuhkanmu.” Lalu ia-pun beriman kepada Allah Ta’ala dan Allah-pun menyembuh-kannya.

Selanjutnya orang itu menghadap sang raja dan duduk sebagaimana biasanya. Lalu sang raja berkata padanya; “Siapa yang mengembalikan (menyembuhkan) penglihatanmu.?”

Dia menjawab: “Rabb-ku.”

Apakah engkau mempunyai Rabb selain diriku?” tanya sang raja.

“Rabb-ku dan Rabbb-mu adalah Allah,” jawabnya.

Maka sang raja langsung menghukumnya dan terus menyiksanya sehingga orang itu menunjuk sang ghulam tadi.

Kemudian dipanggilah si ghulam, lalu sang raja berkata padanya: “Wahai anakku, sihirmu luar biasa hebatnya, dapat menyembuhkan sakit buta dan kusta, kamu juga telah melakukan ini dan itu.”

Maka dia berkata:

إِنِّي لَا أَشْفِي أَحَدًا ، إِنَّمَا يَشْفِي اللهُ تَعَالَى

“Sesungguhnya aku tidak dapat menyembuhkan seorangpun. Sebenarnya yang mampu menyembuhkan hanya Allah Ta’ala.”

“Sesungguhnya aku tidak dapat menyembuhkan seorangpun. Sebenarnya yang mampu menyembuhkan hanya Allah Ta’ala.” jawab Ghulam

Maka pemuda tadi dihukum dan terus disiksa sehingga ia menunjuk keberadaan sang rahib.”

Kemudian ditangkaplah sang rahib, lalu sang raja berkata padanya: “Tinggalkan agamamu ini.” Namun ia menolak.

Lalu didatangkanlah gergaji, dan diletakkan di atas kepalanya, dan membelahnya sehingga tersungkurlah tubuhnya  menjadi dua bagian.

Lalu dibawalah orang kepercaaan raja tadi, dan dikatakan kepadanya; “Tinggalkan agamamu ini.” Namun ia menolak.

Lalu diletakkan gergaji di atas kepalanya, dan membelahnya sehingga kedua bagian tubuhnya tersungkur.

Lalu dibawalah ghulam tadi, dan dikatakan padanya; “Tinggalkanlah agamamu ini.” Namun ia menolak.

Lalu ia menyerahkan pemuda tadi kepada pasukannya supaya di bawa ke atas gunung dan jika sudah sampai dipuncaknya ia ditawari untuk kembali kepada agamanya semula, jika tidak mau, ia dilemparkan ke bawah.”

Kemudian mereka segera membawa si ghulam naik ke atas gunung. Ketika sudah sampai di atas si ghulam berdoa:

“Ya Allah, lindungi diriku dari (kejahatan) mereka sesuai dengan kehendak-Mu.”

Maka gunung itu-pun bergoncang sehingga mereka berjatuhan.

Kemudian ghulam dengan berjalan kaki menemui sang raja, lantas sang raja menanyainya: “Apa yang dilakukan pasukan yang membawamu?”

Dia menjawab: “Allah Ta’ala telah menghindarkan diriku dari kejahatan mereka.”

Kemudian ghulam diserahkan kepada pasukannya yang lain, ia berpesan agar membawanya ke tengah laut dengan sebuah perahu. Jika dia mau kembali kepada ajarannya semula, maka ia selamat, namun jika tidak mau, dia dilemparkan ke tengah laut.

Lalu mereka berangkat dengan membawanya. Ketika sampai di tengah laut ghulam tadi berdoa:

اَللّهُمَّ اكْفِنِيْهِمْ بِمَا شِئْتَ

“Ya Allah, lindungi diriku dari (kejahatan) mereka sesuai dengan kehendak-Mu.”

Maka kapal itupun terbalik dan tenggelam.

Setelah itu ghulam datang kepada sang raja dengan berjalan kaki. Dan raja-pun berkata padanya: “Apa yang dilakukan pasukan yang bersamamu?”

Dia menjawab: “Allah Yang Maha Tinggi telah menyelamatkanku dari kejahatan mereka.” Lebih lanjut, ghulam berkata kepada sang raja: “Sungguh engkau tidak akan dapat membunuhku hingga kamu mau mengerjakan yang kuperintahkan.”

Raja berkata: “Apa itu?.”

Ghulam menjawab: “Kamu harus mengumpulkan orang-orang di satu tanah lapang (lapangan), lalu kamu menyalibku di sebuah batang pohon, lalu ambillah anak panah dari tempat anak panahku, lalu letakkan anak panah pada busurnya dan kemudian ucapkan:

بِسْمِ اللهِ رَبِّ الْغُلَامِ

“Dengan menyebut nama Allah, Rabb si ghulam.” Lalu lepaskanlah anak panah itu ke arahku. Sungguh jika engkau lakukan hal itu, kamu akan dapat membunuhku.”

Maka sang raja-pun mengumpulkan orang-orang di suatu tanah lapang. Lalu ia menyalibnya di atas sebatang pohon. Lalu ia mengambil anak panah dari tempat anak panah ghulam. Selanjutnya ia meletakkan anak panah pada busurnya. Kemudian mengucapkan:

بِسْمِ اللهِ رَبِّ الْغُلَامِ

“Dengan menyebut nama Allah, Rabb si ghulam.”

Dan kemudian melepaskan anak panah itu dan mengenai pelipisnya. Lalu si ghulam meletakkan tangannya di pelipisnya, lalu ia meninggal dunia.”

Saat itu orang-orang berkata: “Aamanna bi Rabbil ghulam.” Kemudian ada orang datang kepada raja dan berkata kepadanya: “Tahukan engkau apa yang engkau khawatirkan? Demi Allah kekhawatiranmu telah menjadi kenyataan, orang-orang telah beriman.”

Kemudian raja itu memerintahkan untuk membuat parit berapi besar pada setiap persimpangan jalan. Dan raja itu berkata:

مَنْ لَمْ يَرْجِعْ عَنْ دِيْنِهِ فَأَقْحِمُوهُ فِيْهَا

“Barangsiapa yang tidak kembali kepada agamanya semula, maka lemparkan ke dalam parit itu!.” Atau dikatakan ceburkanlah dirimu.

Maka orang-orangpun melakukan hal tersebut sehingga datanglah seorang wanita bersama bayinya. Lalu wanita itu berhenti dan menghindar agar jangan terperosok ke dalamnya. Maka bayi itu berkata kepadanya: “Ya Ummah isbiri fa innaki ‘alal haq” (wahai ibu, bersabarlah, sungguh negkau berada di atas kesabaran.” (HR. Muslim)

Pelajaran dari hadits di atas

Banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah di atas. Tapi di sini kami akan menyebutkan sebagaian kecilnya saja.

Pertama, adanya ujian keimanan. Hal ini seperti yang disampaikan Rahib kepada ghulam setelah dia menceritakan keajaiban yang dialaminya, “Wahai anakku sekarang engkau lebih baik dariku. Sebab urusanmu telah sampai pada tarap sang kusaksikan. Dan sungguh engkau kelak akan diuji. Jika engkau diuji, janganlah engkau tunjukkan keberadaanku pada mereka.”

Hal ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala,

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. al Ankabuut: 2-3)

Kedua, Besarnya permusuhan orang kafir terhadap kaum mukminin dan dahsatnya penyiksaan mereka yang tidak berperikemanusiaan.

Kisah di atas merupakan kisah ashabul uhdud yang Allah cantumkan di dalam surat al-Buruj.

قُتِلَ أَصْحَابُ الْأُخْدُودِ (4) النَّارِ ذَاتِ الْوَقُودِ (5) إِذْ هُمْ عَلَيْهَا قُعُودٌ (6) وَهُمْ عَلَى مَا يَفْعَلُونَ بِالْمُؤْمِنِينَ شُهُودٌ (7) وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَنْ يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ

Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit, Yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar,  Ketika mereka duduk di sekitarnya, Sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan Karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (QS. al-Buruj: 4-8)

Allah, Dzat Yang menciptakan seluruh makhluk, memberi rizki mereka, dan Yang menetapkan takdir. Dzat yang Maha mengetahui, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, yang dzahir maupun yang batin, yang besar maupun yang kecil, yang jauh maupun yang dekat telah mengabarkan kepada kita bahwa orang-orang kafir akan senantiasa memusuhi kita sehingga kita berpindah mengikuti ajaran agama mereka.

Allah berfirman:

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُوْدُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللهِ هُوَ الْهُدَى وَلِئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَآءَهُمْ بَعْدَ الَّذِيْ جَآءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيْرٍ

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)”. dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 120)

وَدَّ كَثِيْرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّوْنَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيْمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ

Sebahagian besar ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.” (QS. al-Baqarah: 109)

Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup.” (QS. al-Baqarah: 217)

Orang yang benar kekafirannya pasti-lah mereka memusuhi kaum muslimin. Dan apabila ada di antara mereka yang tidak memusuhi kaum muslimin berarti kekafiran mereka tidak benar-benar. Sebagaimana kaum muslimin, apabila Iman dan Islam mereka benar, pasti mereka menganggap orang-orang kafir sebagai musuhnya dan sebagai ancaman. Tapi dalam memusuhinya, mereka memiliki aturan-aturan syar’i yang harus dipatuhi. Dan apabila ada kaum muslimin yang menganggap orang-orang kafir sebagai teman, kawan bahkan saudara tanpa ada keyakinan sebagai musuh lalu diikuti dengan berkasih sayang dan saling berwali maka Iman dan Islam mereka perlu dipertanyakan.

Allah Ta’ala berfirman:

Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Meraka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya, dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.” (QS. al-Mujadilah: 22)

Salah satu cara menanggulangi permusuhan mereka adalah dengan senantiasa menjaga keimanan dan mempersiapkan kekuatan. Supaya mereka merasa gentar dan tidak bisa menuruti kedengkian mereka.

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَاسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُوْنَ بِهِ عَدُوَّ اللهِ وَعَدُوَّهُمْ وَءَاخَرِيْنَ لَا تَعْلَمُوْنَهُمُ اللهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوْا فِي سَبِيْلِ اللهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُوْنَ

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS. al-Anfal: 60)

Ketiga, Keberanian membela dan mengatakan kebenaran.

Keberanian ini ditunjukkan oleh ghulam ketika menyatakan di hadapan raja dzalim yang mengaku sebagai tuhan, bahwa Tuhannya adalah Allah, bukan raja. Dia juga menyandarkan kesembuhan kepada Allah melalui ucapannya, “Sesungguhnya aku tidak dapat menyembuhkan seorangpun. Sebenarnya yang mampu menyembuhkan hanya Allah Ta’ala.”

Tentunya dia paham resiko yang akan dihadapi ketika menyatakan hal tersebut. Namun, dengan taufiq dari Allah dia tetap menyatakan kebenaran di hadapan raja, tanpa harus menyembunyikan atau berkilah di hadapannya. Rasa takutnya kepada Allah jauh lebih besar daripada takutnya kepada raja.

Ini adalah bentuk jihad fi sabilillah, bahkan termasuk jihad yang paling utama. Karena subtansi dari jihad adalah upaya dan kesungguhan untuk meninggikan kalimatullah di muka bumi. Berkaitan dengan ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ أَوْ أَمِيْرٍ جَائِرٍ

Jihad yang paling utama adalah berkata yang adil (benar) di hadapan pemimpin yang jahat.” (HR. at-Tirmidzi dan ibnu Majah)

Dan berjihad dengan berkata yang benar dan jujur walau apapun akibatnya adalah salah satu dari tujuh pesan Rasulullah kepada Abu Dzar radliyallah ‘anhu,

Dan beliau menyuruhku untuk mengatakan al-hak (kebenaran) walaupun pahit rasanya * dan supaya aku tidak takut celaan orang yang mencela.” (HR. Imam Ahmad)

Dalam beberapa hadits lain, Rasulullah mencela sikap diam dari mengatakan kebenaran karena takut kepada manusia ketika kondisi menuntutnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَلَا لَا يَمْنَعَنَّ أَحَدَكُمْ رَهْبَةُ النَّاسِ أَنْ يَقُوْلَ بِحَقٍّ إِذَا رَآهُ أَوْ شَهِدَهُ. فَإِنَّهُ لَا يُقَرِّبُ مِنْ أَجَلٍ، وَلَا يُبَاعِدُ مِنْ رِزْقٍ أَنْ يَقُوْلَ بِحَقٍّ أَوْ أَنْ يُُّذَكِّرَ بِعَظِيْمٍ

“Ingatlah! janganlah ketakutan pada manusia menghalangi salah seorang kalian mengatakan kebenaran jika ia melihat dan menyaksikannya. Karena mengatakan kebenaran atau memperingatkan perkara yang besar tidak mendekatkan ajal dan tidak menjauhkan rizk.” (HR. Ahmad)

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang lain, “Janganlah salah seorang kalian menghinakan dirinya sendiri, yaitu ketika ia melihat salah satu perkara Allah yang ia harus mengatakannya tapi ia tidak mengatakannya. Kelak pada hari kiamat ia akan ditanya; “apa yang menghalangimu untuk mengatakan ini dan itu?” ia menjawab: “takut pada manusia” maka Allah berfirman: “kepadakulah engkau lebih layak takut”.” (HR. Ahmad)

Oleh: Purnomo

(PurWD/voa-islam.com)

_________________________________________________________

Share This Post:

Bookmark and Share

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: