Beranda > Opini, Wawasan Islami > Para Penggenggam Bara Api (bagian kedua)

Para Penggenggam Bara Api (bagian kedua)

Oleh : Dr. Raghib as-Sirjani

Diterjemahkan Oleh : Muhammad Setiawan


Para sahabat, mereka menempuh jalan yang lurus ini, tidak ke kanan dan tidak ke kiri.

Ada seorang lelaki yang bertanya kepada Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam, “Beritahukan kepadaku, satu perkara yang aku tidak akan tanyakan kepada seorangpun lagi setelahmu.”

Bersabda shallaLlahu ‘alayhi wa sallam, “Katakanlah aku beriman kepada Allah, kemudian istiqomahlah.”

Inilah Din yang tidak ke kanan dan tidak pula ke kiri. Kepada makna inilah, Nabi shallaLlahu ‘alayhi wa sallam menaruh perhatiannya. Seperti terlihat dalam percakapannya yang menyentuh bersama Hudzaifah bin al-Yaman radhiyaLlahu ‘anhu. Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam tentang keburukan yang ia takutkan jika ia temui.

Percakapan yang sangat panjang. Sangat indah. Kita tidak akan mengutip seluruhnya. Percakapan itu terdapat di shahih Bukhari, silahkan merujuknya bagi siapa yang menginginkan.

Akan tetapi ada titik yang penting sekali,  khususnya bagi kita sekarang. Maka setelah Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam menyebutkan bahwa nanti akan datang suatu zaman di mana umatnya berada dalam kebaikan. Namun setelah kebaikan tersebut akan ada kabut.

Bertanyalah Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu,

“Apakah setelah kebaikan itu akan ada keburukan ..?”

Rasulullah bersabda, “Ya.”

Maka renungkanlah apa yang terkandung dalam ucapan Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam, karena sesungguhnya ia menggambarkan apa yang terjadi pada kondisi kita saat ini.

“Ya, akan ada da’i-da’i di atas pintu-pintu jahannam. Siapa saja yang menyambut seruan mereka, akan dilemparkan ke dalamnya.”

Aku berkata, “Wahai Rasulullah, jelaskan kepada kami sifat mereka.” 

Siapakah mereka, yaitu para da’i yang berada di atas pintu-pintu jahannam ..?”

Beliau bersabda, “Mereka berasal dari keturunan kulit-kulit kita, (artinya mereka adalah kaum muslimin), dan mereka berbicara dengan lisan-lisan kita.”  

Maha Suci Allah. Para da’i di depan pintu neraka, kita akan dapati mereka memperindah untukmu kemaksiatan. Di antara mereka ada yang mengajak agar kita menjadi pecandu khamar. Pecandu judi, atau narkotika. Di antara mereka ada orang-orang yang menjadikan indah di matamu aktifitas membuang-buang waktu. Atau aktifitas membuang-buang harta. Atau aktifitas saling membenci. Atau dijadikan indah di hadapan matamu perkara korupsi.

Demikianlah para da’i di depan pintu-pintu jahannam. Sesuatu yang sangat berbahaya.

Dalam kajian ini kita tidak akan membahas mengenai fadhail ‘amal (keutamaan amal-amal ibadah). Kita akan membahas tentang selamat dari jahannam. Kita akan membahas tentang jalan yang lurus. Dan tidak akan didapati selain jalan ini.

Sehingga, selain jalan ini, adalah jalan menuju pintu dari banyak pintu jahannam.

Jalan Islami, jalan yang lurus dan jelas. Adapun orang yang menempuh jalan sosialisme pada suatu ketika. Dan jalan kapitalisme pada saat yang lain. Serta membuka pintu sekulerisme pada saat yang lain. Tidak akan pernah mencapai apa yang ditujunya. Di sini kita ingin memperkenalkan rambu-rambu di jalan sahabat. Jalan lurus yang pernah dilalui oleh sahabat. Kita tidak ingin jalan yang singkat atau jalan yang menyimpang.

Kita tidak ingin masuk ke dalam padang Tih. Dan berbuat secara serampangan. Sebagaimana yang pernah dimasuki oleh Bani Israil ketika mereka menentang jalan yang lurus.

Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi. (al-Maidah ayat 21) 

Mereka menentang, menolak, berlaku sombong, dan mereka mengusulkan jalur alternatif serta cara-cara yang berbeda. Dan hasilnya adalah mereka masuk ke padang Tih. Dan setelah mereka menempuh seluruh jalan, dan mencobanya, mereka tetap tidak akan bisa masuk ke dalam negeri yang disucikan. Kecuali dari arah yang diperintahkan oleh Nabi mereka. Karena sesungguhnya, hanya ada satu jalan yang menghantarkan kepada kebenaran. Jalan yang lurus yang diperintahkan oleh para Nabi.

Kita akan membahas pemahaman para sahabat tentang kata ikhlash ..? Apa pula pemahaman mereka tentang ilmu, tentang ‘amal, tentang dunia, tentang syurga ? Tentang ukhuwwah ? Tentang taubat ..?

Tentang makna-makna ini dan yang lainnya. Jalan yang lurus dalam setiap makna dari seluruh kata-kata tersebut. Hal ini dimaksudkan agar kita mengetahui dengan persis jalan ini. Agar kita bisa berjalan di atasnya. Tidak untuk mengetahui secara teoritis saja. Atau untuk mengisi akal kita dengan kumpulan informasi saja. Tidak. Bukan itu tujuan kita.

Dan sebelum kita berkenalan dengan rambu-rambu jalan ini, marilah kita berhenti sejenak, dan kita mencoba meneliti mengapa muncul perasaan tidak mampu dan putus asa di hati banyak  orang saat mereka mendengar kisah-kisah para sahabat ?

Marilah kita mencari penyebab-penyebab perasaan tidak mampu itu hingga kita mampu mengobati masalahnya dengan pengobatan yang sempurna.

Pertama : Ketiadaan Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam.  

Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam adalah sosok yang membina para sahabat. Dan RasulullahshallaLlahu ‘alayhi wa sallam hari ini tidak ada. Maka kita tidak akan mungkin menjadi  seperti para sahabat. Pemikiran seperti inilah yang paling banyak merasuk ke dalam akal sebagian besar orang. Namun, apakah keberadaan Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam merupakan keharusan bagi petunjuk ke jalan yang benar ?

Padahal, sebagaimana telah kita ketahui jalan yang Allah Ta’ala inginkan agar kita berjalan di atasnya sesungguhnya masih ada di hadapan kita. Maka apakah keharusan, diri Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam harus berada di tengah-tengah kita ?

Apabila itu merupakan keharusan maka kita tidak akan memiliki peluang untuk mencapai tujuan, sebagaimana yang telah dicapai para sahabat. Karena Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam telah wafat. Ini merupakan faktanya. Dan Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam tidak akan pernah kembali lagi hingga hari kiamat. Namun apabila hal ini bukan keharusan, maka masihkah ada peluang agar kita meraih apa yang dicapai oleh para sahabat ?

Agar kita bisa menjawab pertanyaan ini dengan jelas, pertama-tama tidak ada seorangpun yang mengingkari pentingnya kehadiran Nabi shallaLlahu ‘alayhi wa sallam dalam kaitan munculnya generasi pertama. Karena tidak akan pernah ada Diin ini tanpa Nabi shallaLlahu ‘alayhi wa sallam.

Maka Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam adalah orang mengajarkan tentang Rabb alam semesta. Kemudian ia menjadi suri tauladan terbaik yang sempurna bagi seluruh kaum mu’minin. Teladan atas segala sesuatu berdasarkan kemutlakan ayat ini.

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (al-Ahzaab ayat 21) 

Selanjutnya tanyalah dirimu sendiri : Apakah teladan kenabian itu akan hilang dalam kehidupan kita setelah wafatnya Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam ?

Selama-lamanya sunnah masih akan tetap ada. Jalan hidupnya masih tetap ada. Kata-katanya akan tetap hidup di hadapan kita. Dan akan terus menaungi kehidupan kita, insya Allah hingga hari kiamat.

Sungguh Allah Azza wa Jalla telah mengingkari secara tegas, orang-orang yang karena ketiadaan Nabi shallaLlahu ‘alayhi wa sallam mereka  berhenti dari ber’amal. Allah subhanahu wa ta’alaberfirman terkait dengan perang Uhud.

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (Ali Imraan ayat 144)

Ayat ini turun ketika tersebar berita bahwa Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam telah terbunuh saat perang Uhud. Maka putus asa lah sebagian dari sahabat. Mereka duduk-duduk saja di medan pertempuran. Hilanglah sudah semangat bertempur. Hilang pula seluruh keinginan untuk meraih kemenangan. Hilang juga harapan untuk hidup.

Maka, menurut sebagian para sahabat radhiyaLlahu ‘anhum tersebut, hidup di dunia sesaat saja bersama dengan Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam lebih baik daripada hidup kekal di dunia tanpa bersama Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam. Ketiadaan Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam menjadi musibah besar bagi mereka.

Dan tidak ragu lagi bahwa mushibah ketiadaan Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam ini lebih terasa menyakitkan bagi para sahabat daripada mushibah ketiadaan Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallamdi tengah-tengah kita.

Karena mereka kehilangan setelah mendapatkan. Mereka pernah hidup bersama Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam. Mereka bergaul dengannya. Berinteraksi dengannya. Shalat di belakangnya. Mendengarkan langsung hadits-haditsnya.

Mereka hidup secara utuh bersama Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam. Kemudian disebutkan bahwa Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam telah terbunuh. Mushibah yang sangat besar sekali.

Dan setelah mushibah yang besar ini, mereka tetap tidak diberikan udzur. Mereka tidak diberikan udzur oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka tidak diberikan udzur untuk tidak membela agama. Meskipun mereka mendapat mushibah.

Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun. (Ali Imraan ayat 144)  

Berlawanan dengan hal itu adalah apa yang dilakukan oleh sahabat yang mulia, Tsabit bin DahdahradhiyaLlahu ‘anhu, yang memiliki pemahaman yang sangat dalam. Penglihatan yang sangat jernih. Beliau melewati orang-orang yang sedang duduk setelah mendengar kabar bahwa Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam telah terbunuh.

Ia berkata kepada mereka,

“Apabila Muhammad telah terbunuh, maka sesungguhnya Allah Hidup Tidak Mati. Berperanglah untuk agama kalian. Karena sesungguhnya Allah lah yang akan membela dan menolong kalian.” 

Kemudian beliau radhiyaLlahu ‘anhu berperang hingga menemui syahadah. Maka Tsabit bin Dahdah adalah sosok yang beriman. Sosok yang realistis. Dia berinteraksi bersama realitas dimana ia hidup. Dengan seluruh kondisi dan situasinya.

Sehingga ia beramal ketika Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam masih ada. Dan ia beramal juga ketika Rasulullah tidak ada. Menganalisa dengan segera bersama peristiwa-peristiwa. Ber’amal bersama seluruh situasi di dalamnya.

Karena tidak ada hal yang mustahil yang bisa terjadi. Tidak ada kata “law/seandainya” dalam kehidupan seorang muslim. Misalnya berkata salah seorang di antara mereka, “Seandainya saya hidup di zaman Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam pasti saya akan melakukan hal ini dan hal ini. Namun karena takdir dan keinginan Allah maka aku bukanlah sahabat, maka aku tidak akan bisa seperti sahabat.” Hal seperti ini disebut waham.

Dan (perkataan seandainya ini) sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dalam shahih Muslim :

“Engkau membuka perbuatan syaithan.”

Dan siapakah yang mengetahui bahwa kalau engkau hidup sezaman dengan Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam, engkau akan mengikutinya ?

Sungguh pada masa itu ada ribuan kaum musyrikin yang hidup semasa dengan Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam.  Mereka pun memerangi Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam. Dan ada ribuan pula kaum munafiqin yang tinggal di kota madinah. Mereka shalat juga di masjid Nabi. Bahkan langsung di belakang Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam. Akan tetapi mereka tidak beriman.

Tidakkah engkau tahu, kalau engkau hidup di masa itu engkau akan menghadapi fitnah agama nenek moyang. Akan menghadapi fitnah datangnya Nabi dari kabilah yang lain. Akan menghadapi fitnah diperangi oleh seluruh penduduk bumi. Fitnah akan disiksa. Fitnah untuk dilaparkan. Fitnah diusir. Fitnah hijrah. Siapakah yang tahu ..?

Hal yang pasti adalah, apa yang telah dipilihkan oleh Allah untukmu itu adalah yang paling utama. Maka tidak diterima alasan seorang muslim yang menganggap ketiadaan Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam sebagai alasannya untuk tidak mengikuti jejak para sahabat.

Pemahaman yang sama seperti yang dimiliki oleh Tsabit bin Dahdah, dan yang lebih besar lagi dimiliki oleh Abu Bakar as-Shiddiq di hari ketika Nabi shallaLlahu ‘alayhi wa sallam wafat. Yang saya yakin tidak ada orang yang paling sedih dengan wafatnya Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam melebihi sedihnya Abu Bakar as-Shiddiq. Karena beliau adalah seseorang yang nampak secara perbuatan sangat mencintai Nabi shallaLlahu ‘alayhi wa sallam. Abu Bakar as-Shiddiq juga orang yang paling dekat di hati Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam. Akan tetapi kesedihan yang mendalam ini tidak menghalangi munculnya pandangan yang jernih dan pemahaman yang mendalam.

Dengarlah ucapannya saat Abu Bakar as-Shiddiq berkhutbah di hadapan manusia :

Barang siapa yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah wafat. Akan tetapi barangsiapa yang menyembah Allah, maka Allah itu Hidup dan Tidak Mati.

Inilah sesungguhnya hakikat risalah kenabian. Hakikat diutusnya seorang Rasul. Hakikat penghambaan kepada Allah Azza wa Jalla. Maka kita tidak menyembah para Rasul. Amal-amal kita tidak terikat dengan keberadaan mereka. Akan tetapi kita menyembah Allah Azza wa Jalla. Dan amal-amal kita terikat dengan Allah subhanahu wa ta’ala. Maka sesungguhnya Dia lah yang Maha Suci, yang Hidup dan Tidak Mati. Yang Kekal, yang Tidak Pernah Hilang.

Maka mengapa ada manusia yang berhenti ber’amal karena tidak adanya Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam ?

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul . Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (Ali Imraan ayat 144)

bersambung, insya Allah

Source: http://www.muslimdaily.net

Kategori:Opini, Wawasan Islami
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: