Beranda > Opini, Wawasan Islami > Para Penggenggam Bara Api (bagian pertama)

Para Penggenggam Bara Api (bagian pertama)

Oleh : Dr. Raghib as-Sirjani

Diterjemahkan Oleh : Muhammad Setiawan

Pendahuluan

 

Sungguh sebagian besar manusia merasa aneh jika ditanya seperti ini, Apakah engkau seorang sahabat Nabi ?

Jawaban atas hal ini merupakan sesuatu yang mustahil, jika kita melihat istilah sahabat dalam ilmu hadits. Karena dalam ilmu hadits seorang shahabat atau shahabiyyah adalah seseorang yang hidup pada masa Nabi shalllahu ‘alayhi wa sallam dan saat itu ia bertemu dengannya. Masa itu telah berlalu dan tidak akan mungkin kembali. Syarat-syarat ini mustahil  kita penuhi. Untuk itu, menurut ilmu mushthalahul hadits, tidak mungkin kita menjadi shahabat Nabi.

Syarat-syarat apakah yang wajib dipenuhi dalam diri manusia, menurut ulama hadits, sehingga seseorang bisa disebut sebagai seorang sahabat Nabi ..?

Syarat yang pertama :

Hendaknya ia melihat Nabi shallaLlahu ‘alayhi wa sallam dalam kehidupannya. Atau pernah berkumpul bersamanya.

Maka tentu saja ia harus pula pernah melihat Nabi shallaLlahu ‘alayhi wa sallam. Sehingga tidaklah seorang dianggap sahabat meskipun ia hidup satu masa dengan Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam, namun tidak pernah melihatnya, meskipun ia hidup sezaman dengannya.

Untuk itu raja Najasyi tidak bisa disebut sebagai seorang sahabat, meskipun ia hidup semasa dengan Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam dan beriman kepadanya pada masa hidupnya, akan tetapi ia tidak pernah melihat Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam.

Sehingga berkatalah para ulama hadits, “Atau pernah berkumpul bersama dengannya.”

Termasuk dalam ungkapan ini, seseorang yang pernah beriman kepada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam akan tetapi tidak pernah melihatnya, karena cacat atau karena dihilangkan nikmat penglihatan. Seperti halnya Abdullah bin Ummi Maktum radhiyaLlahu ‘anhu. Beliau dianggap sebagai sahabat Nabi karena pernah berkumpul bersama dengan Rasul, meskipun tidak pernah melihatnya, karena ia memiliki kekurangan. Tentu saja, penglihatan yang dimaksud adalah melihat pada saat terjaga, bukan pada saat tidur.

Syarat yang kedua : 

Hendaknya ia beriman kepada Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam, di masa hidup Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam.

Maka tidaklah dianggap sebagai seorang sahabat Nabi, seseorang yang pernah hidup semasa dengan Nabi shallaLlahu ‘alayhi wa sallam, dan melihatnya, dan pernah berkumpul bersamanya, akan tetapi orang tersebut masih kafir bertahun-tahun lamanya hingga Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam meninggal. Kemudian ketika Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam telah meninggal barulah orang tersebut beriman. Maka orang seperti ini tidak bisa disebut sahabat, akan tetapi disebut Tabi’in, yang belajar melalui tangan sahabat Nabi.

Syarat yang ketiga :

Hendaknya ia mati dalam keimanan.

Maka sahabat adalah orang yang beriman kepada Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam di masa hidupnya Rasulullah, dan melihat Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam di saat ia hidup, kemudian ia mati dalam keimanan.

Tiga syarat ini apabila terkumpul pada diri seseorang, maka ia adalah sahabat. Dan sahabat ini jumlahnya banyak sekali. Lebih dari 114.000 yang memenuhi syarat-syarat ini. Sehingga kita bukanlah para sahabat. Karena kita tidak pernah hidup semasa dengan Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam. Kita juga tidak pernah melihatnya. Kita tidak pernah melalui pengalaman-pengalaman hidup bersama Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam.

Sebagaimana telah kita sebut tadi, maka menurut ilmu musthalahul hadits, mustahil kita akan menjawab pertanyaan ini : Apakah anda sahabat ? Dengan jawaban,”Ya.”

Akan tetapi apa maksud dari pertanyaan ini : Apakah anda seorang sahabat ..?

Apabila mustahil untuk menjadi seorang sahabat dalam kajian mustalahul hadits, maka apa maksud dari kata “Kun Shahabiyyan .. Jadilah engkau seorang sahabat ..?”

Maksudnya adalah engkau menjadi seperti seorang sahabat Nabi dalam aqidahmu, dalam imanmu, dalam pemikiranmu, dalam pemahamanmu terhadap agama ini, dalam obsesimu, dalam tujuan-tujuanmu, dalam pembelaanmu terhadap Islam, dalam kecemburuanmu terhadap kehormatan kaum muslimin, dalam menerapkan seluruh hal baik yang kecil maupun besar dalam agama ini.

Maksud dari pembahasan ini adalah agar kita memahami penyebab-penyebab sejati yang menjadikan seorang sahabat menjadi sahabat.

Sungguh, keutamaan para sahabat bukanlah saja karena mereka hidup semasa dengan Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam. Atau karena mereka hidup di satu zaman tertentu. Karena sesungguhnya hidup pula semasa dengan Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam, Abu Jahal, Abu Lahab, Walid bin Mughirah, Uqbah bin Abi Mu’ith, dan yang lainnya dari kaum musyrikin.

Sesungguhnya keutamaan para sahabat ini muncul dari komitmen mereka untuk mempelajari agama ini dengan komitmen yang sungguh-sungguh. Dan mereka mengikuti Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam dengan sangat dalam. Mereka mencintai syari’at ini dengan kecintaan yang tulus, jujur dan sejati.

Maksud dari pembahasan ini adalah agar kita menjadi kaum yang ber’amal. Sehingga tidaklah keinginan kita hanya sekedar mendengarkan cerita-cerita. Atau mengumpulkan riwayat-riwayat. Akan tetapi keinginan kita adalah agar mencapai apa yang telah dicapai oleh manusia-manusia hebat ini (maksudnya : para shahabat). Atau setidaknya mendekati apa yang telah mereka capai.

Dan inilah maksud dari ungkapan, “Kun Shahabiyyan, jadilah engkau seorang sahabat.”

Dan inilah maksud dari pertanyaan, “Apakah anda seorang sahabat ..?”

Salah seorang sahabatku mengucapkan sesuatu yang aneh. Dan nampaknya hal yang aneh inilah yang menjadi penyebab saya mempersiapkan pembahasan ini.

Dia berkata, “Sesungguhnya saya jika membaca kisah-kisah para sahabat, atau mendengar kisah-kisah sahabat, saya merasa diri menjadi lemah.”

Saya berkata, “Ini adalah hal yang sangat bertentangan. Sesungguhnya kita membaca sirah sahabat dan orang-orang shalih agar kita bersemangat dalam ber’amal. Agar kita menjadi rajin setelah lesu. Maka mengapa anda bisa merasakan seperti itu ?”

Dia berkata, “Setiap kali saya membaca tentang sahabat, saya mendapati amal-amal yang mustahil untuk saya lakukan.”

Dia berkata : “Saya mendapati kesungguhan para sahabat  dalam berjihad. Saya mendapati keteguhan mereka dalam keimanan. Saya mendapati tekad mereka yang kuat dalam melaksanakan shaum, qiyamullail, pengorbanan, shadaqah. Saya mendapati ketersambungan mereka dalam melakukan kebaikan dan kebajikan di malam dan siang hari. Di waktu musim dingin maupun panas. Tidak ada bedanya baik itu anak-anak maupun pemuda. Baik itu orang muda maupun orang tua. Seluruhnya bersungguh-sungguh untuk Allah Azza wa Jalla. Hartanya seluruhnya diberikan di jalan Allah. Fikirannya seluruhnya dicurahkan di jalan Allah.

Maka saat saya mendapati hal-hal tersebut, saya merasa sangat lemah sekali. Sangat jauh dari jalan hidup mereka. Maka diri saya tertutupi oleh perasaan tidak mampu dan putus asa.”

Selesailah ucapan teman saya itu.

Saya berkata kepada teman saya itu.

“Sebagian ucapanmu itu dapat saya terima. Saya sungguh-sungguh sepakat. Akan tetapi setengah yang berikutnya saya berbeda pendapat denganmu. Maka sebagaimana yang kau ucapkan tadi, bahwa secara perbuatan, sahabat adalah generasi yang unik yang kehidupan mereka sangat menakjubkan sekali. Pengorbanan mereka tidak pernah berhenti sedetikpun. Oleh karena itu nilai mereka sangatlah tinggi. Sangat berharga sekali. Cukuplah jika engkau mendengar apa yang difirmankan Allah Azza wa Jalla tentang hak mereka secara keseluruhan,

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. (At-Taubah ayat 100)

 Dan Allah Azza wa Jalla tidak menyebutkan syarat Ihsan (dengan baik) dalam ‘amalnya sahabat, maka Allah berfirman.

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar. (At-Taubah ayat 100)

Akan tetapi orang-orang yang mengikuti mereka diberikan syarat ihsan kepada mereka.

Dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik (At-Taubah ayat 100)

Karena sesungguhnya para sahabat assabiqunal awwalun, baik itu muhajirin maupun anshar mereka seluruhnya telah ber’amal dengan ihsan.

Hal ini adalah sesuatu yang telah diketahui sebagai ciri dari generasi sahabat. Karena itu derajat mereka sangatlah tinggi dan mulia di sisi Rabb kita subhanahu wa ta’ala. Juga di sisi Rasulullah. Demikian pula di sisi kaum mu’minin. Satu derajat yang merupakan puncak keindahan. Ini adalah hal yang saya sepakat denganmu, bahwa sesungguhnya mereka, generasi sahabat ini telah mencapai satu derajat yang sangat tinggi.

Akan tetapi hal yang aku berbeda pendapat dengan temanku adalah, munculnya perasaan tidak mampu. Putus asa ketika mendengar kisah-kisah ini. Atau ketika membaca sirah mereka. Maka hal yang paling baik untuk menggantikan perasaan putus asa dan ihbath ini adalah kita menyibukkan diri kita dengan mencari tahu bagaimana kaum assabiqunal awwalun ini mencapai apa yang mereka capai ? Dan bagaimana mereka menemukannya ?

Fikirkanlah tentang masalah ini dengan akalmu. Para sahabat selalu berjalan di jalan yang dikenal, jalan yang jelas. Dan ini adalah jalan yang juga ada dihadapan kita. Jalan itu berada dalam kitab Allah Azza wa Jalla, dan dalam Sunnah Rasul yang Mulia shallaLlahu ‘alayhi wa sallam. Apabila perkaranya seperti itu, maka mengenal jalannya, dan melangkah di jalan tersebut menjadi jaminan agar kita mencapai apa yang mereka telah capai.

Contohnya, kalau saya berkata kepada Anda, “Jalanlah di jalan ini, janganlah berpaling ke kanan atau kiri, maka engkau akan mencapai kota Iskandariyah.”

Jalan yang lurus, dari titik ini ke titik berikutnya, akan menghantarkan engkau ke Iskandariyah. Maka setiap orang yang melangkah di atas deskripsi ini ia akan sampai.

Maka generasi sahabat telah berjalan di jalan ini. Tidak berpaling ke kanan atau kiri. Maka mereka telah mencapai apa yang ingin mereka capai. Demikian pula kita, jika melangkah di jalan yang sama, tanpa berpaling ke kanan maupun kiri, dengan sendirinya kita akan mencapai apa yang telah diraih para sahabat.

Kadangkala engkau berfikir bahwa engkau lebih pintar daripada syari’at Allah. Kadangkala kita berfikir seperti itu, karena kita menganggap bahwa kita mampu mengambil jalan yang lain yang dapat menghantarkan kita lebih cepat kepada apa yang ingin kita capai. Padahal asalnya, jalan yang lurus adalah jalan yang paling pendek. Dan jalan syari’at selalu jalan yang lurus, tidak ke kanan dan ke kiri. Allah Azza wa Jalla berfirman,

Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Al-Fatihah ayat 6)

Anda mengucapkannya sekurang-kurangnya 17 kali dalam sehari dalam shalatmu. Tujuh belas raka’at yang diwajibkan atasmu untuk membaca al-fatihah. Agar Allah subhanahu wa ta’ala selalu membimbingmu

Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa. (al-An’aam ayat 153)

Jalan ini selalu disifati sebagai jalan yang lurus. Dan barangsiapa yang mencoba untuk mengambil jalan yang bercabang dari jalan yang lurus ini maka ia tidak akan sampai selama-lamanya. Dan barangsiapa yang menyimpang walaupun satu derajat maka ia tidak akan sampai kepada tujuannya.

Dan barangsiapa yang melihat bahwa jalan tarbiyyah yang telah ditempuh oleh Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam adalah jalan yang panjang, karena di dalamnya ada da’wah, ada cobaan, ada kesabaran, ada perjuangan, dan ketika ia mendapati jalan ini panjang, ia akan berkata,”Saya akan mengambil jalan yang lebih ringkas. Saya akan langsung masuk ke Badar. Saya akan mengubah masyarakat ini dengan pedang sebagaimana dulu Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam mengubah dengan pedang.”

Beliau shallaLlahu ‘alayhi wa sallam memang melakukan perubahan di Badar. Akan tetapi Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam sebelum sampai ke Badar, beliau telah menempuh perjalanan yang panjang. Akan tetapi banyak diantara kita menginginkan untuk menempuh jalan yang ringkas. Sehingga hasilnya bukan sebagaimana yang dicapai Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam dan para sahabatnya. Dan ia tidak akan pernah mencapainya. Karena sesungguhnya jalan yang lurus adalah jalan yang paling pendek.

Sebagaimana seseorang yang membawakan nilai keimanan dengan cara memaksa, dengan mencaci, dengan membentak, dengan menakut-nakuti.  Dan ia berkata bahwa ini adalah jalan yang paling pendek. Dan ini yang paling ringkas. Adapun jalan Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam sebagaimana kita seluruhnya tahu adalah jalan yang santun, lembut, ceria, tersenyum, cinta, kasih sayang. Kadangkala nampak di awal sesuatu/perkara bahwasanya ini sangat panjang, akan tetapi hakikatnya ini merupakan jalan yang paling singkat untuk menuju hati.

bersambung insyaAllah

Source: http://www.muslimdaily.net

Kategori:Opini, Wawasan Islami
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: