Beranda > Opini, Wawasan Islami > Para Penggenggam Bara Api (bagian keempat)

Para Penggenggam Bara Api (bagian keempat)

Oleh : Dr. Raghib as-Sirjani

Diterjemahkan Oleh : Muhammad Setiawan

Termasuk dalam sebab kedua mengapa sebagian besar kaum muslimin merasakan/menganggap bahwa mengikuti sahabat adalah sesuatu yang sulit, karena sebagian besar mereka lupa bahwa para sahabat adalah manusia biasa yang memiliki seluruh tabiat-tabiat manusiawi.

Mereka bukanlah makhluk yang khusus. Mereka bukanlah jin. Mereka bukanlah malaikat. Mereka hanyalah manusia biasa, yang telah sukses dalam mengemban amanah.

Dan sebelum saya meninggalkan poin pembahasan ini, saya ingin menunjukkan satu isyarat syariat kepada Anda. Saya ingin menunjukkan kepada Anda, bahwa sebagian duat/penceramah memiliki saham dalam menanamkan problem ini.

Yaitu dengan cara menyebut-nyebut mereka (sahabat) dengan ungkapan yang berlebihan (hiperbola). Ungkapan-ungkapan ini kadangkala berasal dari riwayat yang tidak shahih, kadangkala pula berasal dari riwayat yang palsu.

Adapun riwayat-riwayat yang shahih mengenai sahabat, cukuplah itu untuk menjelaskan keutamaan sahabat. Kita tidak butuh lagi ungkapan-ungkapan berlebih-lebihan lainnya. Sungguh, mereka (para sahabat) telah mulia dengan kondisi mereka yang sebenarnya.

Contohnya, sebagian dari para da’i itu menceritakan satu kisah mengenai Sayyidina Khalid ibn Walid radhiyaLlahu ‘anhu. Bahwasanya, beliau pernah mengetahui bahwa dalam gelas yang diberikan oleh musuhnya terdapat racun. Maka beliau tetap meminum racun tersebut, untuk membuktikan kepada musuhnya bahwa dengan nama Allah, tidak akan ada sesuatu apapun yang dapat membahayakannya.

Maka Khalid ibn Walid, minum racun tersebut sambil membaca :

Dengan nama Allah, yang dengan nama-Nya tidak akan membahayakan apapun juga.

Maka Khalid bin Walid meminum racun tersebut, dan tidak terjadi apa-apa. Cerita seperti ini sungguh berbahaya, dan tidak membawa manfaat. Dan tentu saja, setelah diperiksa ternyata riwayat dari kisah ini tidaklah shahih. Riwayat seperti ini juga bertentangan dengan sunnah kauniyyah. Karena Sayyidina Khalid ibn Walid, adalah manusia biasa yang terikat dengan hukum sebab-akibat. Maka ia tidak akan meminum racun. Ia juga mencari jalan keberhasilan.

Bahkan, Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam sendiri pernah memakan daging yang beracun. Hingga, saat diberitahukan (oleh Jibril) bahwa daging tersebut beracun, maka beliau memuntahkan potongan daging tersebut, dan tidak menelannya meskipun beliau adalah seorang Rasul, dan Allah Azza wa Jalla menjaganya. Akan tetapi, tetap saja beliau terikat dengan hukum sebab-akibat.  Padahal beliau ini seorang Rasul yang mengajarkan kepada kita apa yang harus kita lakukan.

Seperti inilah yang seharusnya kita ucapkan mengenai shahabat. Bahwa para sahabat adalah orang-orang yang berusaha mencari jalan menuju keberhasilan sebagaimana  kita. Mereka terikat dengan hukum sebab-akibat. Dan mereka telah berjalan di atas jalan yang jelas, terang-benderang.

Karena itu, tidak boleh ada di antara kita yang kemudian meminum racun, sambil membaca doa “Bismillahilladzi la yadhurru ma’as mihi sya’un”, lalu berkata, “saya melakukan ini karena mengikuti sahabat nabi. Saya melakukan ini karena mengikuti sayyidina Khalid bin Walid.” Ucapan yang seperti ini jelas tidak benar.

Kadang-kadang, memang, ungkapan-ungkapan berlebihan mengenai sahabat itu memang benar-benar pernah terjadi. Akan tetapi hal itu merupakan karamah yang khusus diberikan kepada sebagaian sahabat Nabi.

Karamah adalah sesuatu yang luar biasa, yang pernah dialami oleh seorang sahabat Nabi atau seorang yang shalih, tanpa orang tersebut bermaksud untuk melakukan hal tersebut. Artinya, para sahabat saat melakukan hal tersebut tidaklah dengan sengaja. Hal ini merupakan pemberian dari Allah Ta’ala kepadanya. Sebagai bentuk kemuliaan, hadiah dan nikmat dari Allah bagi sebagian wali-Nya, sahabat nabi dan orang-orang shalih.

Mereka adalah orang-orang shalih. Mereka adalah para sahabat Nabi. Akan tetapi mereka tidak akan mampu untuk mengulangi karamah ini kecuali atas kehendak Allah Azza wa Jalla. Sebagaimana yang pernah terjadi kepada Umar ibn Khatthab, ketika ia menyeru dari Madinah. Beliau berteriak, “Wahai pasukan, naik ke atas bukit.”

Maka pasukan tersebut mendengar teriakannya. Padahal jarak antara beliau dengan pasukannya saat itu ratusan kilometer dari kota Madinah. Ini adalah karomah yang memang pernah terjadi kepada Umar bin Khattab. Akan tetapi engkau tidak diminta untuk melakukan hal yang sama. Engkau hari ini bisa melakukannya dengan sarana-sarana yang ada. engkau bisa menggunakan telepon. Engkau bisa menggunakan satelit. Engkau bisa menggunakan perangkat-perangkat modern. Engkau tidak perlu melakukan sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Umar. Cara seperti tadi hanya khusus dilakukan oleh Umar pada saat itu saja. Dan tidak bisa diulangi untuk kedua kalinya oleh Umar.

Pada masanya, Umar bin khatthab berkomunikasi jarak jauh dengan menggunakan surat, sebagaimana yang lazim digunakan pada saat itu. Umar tetap mengambil sebab-sebab/sarana-sarana yang wajar. Karamah itu hanya terjadi sekali saja.

Untuk itu wajib bagi setiap du’at, saat menceritakan kisah ini, harus pula menjelaskan kepada masyarakat bahwa peristiwa ini adalah adalah peristiwa khusus yang hanya terjadi sekali saja. Karena sesungguhnya kehidupan para sahabat, sebagaimana kita,  berjalan di atas hukum-hukum Ilahiyyah yang berlaku tetap di alam ini.

Kadang kala hal-hal yang berlebihan itu memang terjadi. Akan tetapi, hal itu tidak diterima oleh sahabat yang lain. Dalam arti para sahabat berselisih dengannya dalam hal itu. Atau bahkan, Nabi shallaLlahu ‘alayhi wa sallam sendiri yang melarang sahabat itu untuk meneruskan perbuatannya.

Contohnya, seperti kerasnya sikap zuhud yang diterapkan oleh Abu Dzar Al-Ghifary radhiyaLlahu ‘anhu. Abu Dzar Al-Ghifary ini pernah berkesimpulan bahwa seseorang yang hartanya masih tersisa di rumahnya lebih dari satu hari itu berarti termasuk dalam kategori menumpuk harta. Meskipun orang tersebut telah mengeluarkan zakatnya. Tentu saja, hal ini tidak disetujui oleh mayoritas sahabat lainnya.

Dan juga seperti Abdullah bin Amr bin Ash yang melakukan qiyamul lail setiap malam hingga pecah-pecahlah kakinya. Beliau juga mengkhatamkan al-Qur’an setiap malam dan shaum setiap siangnya. Perbuatan ini bukanlah perbuatan yang terpuji. Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam pun melarangnya untuk melakukan hal ini. Dan beliau shallaLlahu alayhi wa sallam memerintahkannya untuk seimbang/wajar dalam beribadah. Beliau menyuruhnya untuk shaum satu hari dan berbuka satu hari. Dan ini sudah merupakan shaum yang paling baik. Awalnya beliau menyuruhnya untuk shaum tiga hari setiap bulan, selanjutnya dua hari dalam sepekan, kemudian sehari shaum dan sehari berbuka.

Mengenai mengkhatamkan al-Qur’an, beliau menyuruhnya untuk mengkhatamkan setiap bulan sekali, selanjutnya beliau menyuruhnya mengkhatamkan sepekan sekali dan akhirnya setiap tiga hari sekali. Inilah dasar-dasar yang telah diletakkan oleh Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam. Karena itu, janganlah ada yang berkata tentang Abdullah bin Amr bin Ash, bahwa beliau selalu shalat malam sepanjang malamnya,  mengkhatamkan al-Qur’an setiap harinya dan shaum sepanjang malamnya. Sehingga sebagian besar orang saat mendengar kisah tentangnya, akan merasa putus asa dan tidak mampu untuk mengikuti jejak langkah para sahabat.

Karena itu, hendaknya anda mengetahui apakah perbuatan tersebut sesuai dengan sunnah Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam atau beliau shallaLlahu ‘alayhi wa sallam telah melarang untuk melakukannya ?

Untuk itu, Anda sebagai da’i, hendaknya menyadari kepada siapa Anda berbicara ..? Hendaknya para da’i tidak mempersulit urusan. Karena seringkali, orang yang didakwahi itu adalah seseorang yang baru saja mulai berkomitmen kepada agamanya. Maka seorang da’i yang bijak, adalah seorang yang bicara dengan menyesuaikan bahasannya kepada siapa dia berbicara. Dan inilah yang kami inginkan dari pembicaraan ini.

Maka penggambaran yang hebat mengenai sifat-sifat ataupun perbuatan sahabat, sama saja apakah ungkapan itu nyata atau hanya ungkapan yang berlebihan, akan membawa keyakinan dalam diri sebagian orang bahwa para sahabat itu bukanlah seperti manusia biasa. Mereka tidak memiliki unsur-unsur kemanusiaan seperti kita. Dan akhirnya akan membawa kepada kesimpulan bahwa kita tidak bisa mengikuti mereka.

Yang ketiga : Sebagian kaum muslimin merasa sulit untuk mengikuti para sahabat, karena mereka menganggap bahwa setiap orang (baik laki-laki maupun perempuan) dari generasi sahabat memiliki kemampuan yang sempurna untuk melakukan segala hal.

Tentu saja, ucapan seperti ini tidaklah tepat. Karena sesungguhnya para sahabat adalah orang-orang terbaik, namun mereka bukanlah orang yang terbaik di semua segi kehidupan. Kadang kala ada di antara mereka yang gemilang di satu aspek, namun biasa-biasa saja di aspek yang lain.

Di antara mereka, misalnya, ada orang-orang yang hebat dalam urusan jihad, seperti halnya Khalid ibn Walid radhiyaLlahu ‘anhu, al-Qa’qa’ bin Amr at-Tamimy, Zubair bin Awwam radhiyaLlahu ‘anhum  atau yang lainnya. Mereka adalah orang-orang yang jenius dalam bidang militer.

Akan tetapi, pada saat yang sama, Khalid ibn Walid ketika memimpin shalat bersama orang-orang, seringkali salah dalam membaca al-Qur’an. Karena beliau tidak banyak menghafal al-Qur’an. Untuk itulah beliau sering berkata,

“Sesungguhnya aku disibukkan dengan jihad, hingga tidak sempat menghafal al-Qur’an”

Namun, dalam bidang al-Qur’an dan ulumul Qur’an kita akan mendapati Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab, Abu Musa al-Asy’ari sebagai ulama yang mumpuni. Meskipun mereka tidak terlalu gemilang dalam bidang militer.

Dalam bidang ilmu hadits, menghafal hadits dan menukil ilmu, kita akan dapati Abu Hurayrah sebagai legenda ilmiyyah, perpustakaan terlengkap dan komputer bergerak. Sedangkan dalam bidang memberikan fatwa dan hukum syar’iyyah kita akan mendapati seseorang yang lebih gemilang daripadanya. Yaitu, Abdullah ibn Abbas, Abdullah ibn Mas’ud dan juga Ali ibn Abi Thalib radhiyaLlahu ‘anhum.

Dalam bidang infaq, kita akan mendapati Abu Bakar as-Shiddiq (meskipun sebenarnya, Abu Bakar as-Shiddiq bisa kita temui kontribusinya dalam segala bidang) dan juga Utsman bin Affan serta Abdurrahman ibn ‘Auf radhiyaLlahu ‘anhum.

Sedangkan dalam bidang administrasi kita akan mendapati Umar ibn Khattab dan Muawiyyah Ibn Abi Sufyan radhiyaLlahu ‘anhum. Setiap orang memiliki keunggulan dalam satu bidang. Setiap orang menonjol dalam satu bidang.

Pada masa kita saat ini juga, ada di antara kita yang sangat mudah dan cepat dalam berinfaq fi sabiliLlah, akan tetapi kontribusinya dalam bidang ilmu sangatlah sedikit. Adapula yang mampu menjadi khathib yang fasih, akan tetapi tidak memiliki kemampuan di bidang politik. Yang lainnya, ada pula yang gemilang dalam Ulumul Qur’an akan tetapi tidak memiliki kemampuan dalam menetapkan hukum.

Anda akan mendapati potensi yang berbeda-beda. Bakat yang berbeda-beda. Hasil ilmu yang berbeda-beda. Pendidikan yang berbeda-beda. Anda akan mendapati kesenjangan yang sangat banyak di masyarakat kita. dan kita butuh bakat yang berbeda-beda untuk menutupi kesenjangan ini.

Ketika kita melihat generasi shahabat dengan perspektif seperti ini maka kita tidak akan menjadikan generasi sahabat sebagai panutan secara umum, akan tetapi kita menjadikan mereka sebagai panutan secara khusus, dimana kita memiliki potensi dalam hal itu.

Sehingga, jika anda adalah seorang komandan pasukan, maka panutan anda adalah Khalid ibn walid. Kalau anda bergerak dalam bidang manajemen maka panutanmu adalah Umar ibn Khatthab. Demikianlah, sehingga tidak ada lagi perasaan putus asa dalam hatimu saat mengikuti para sahabat.

bersambung, insya Allah

Source: http://www.muslimdaily.net

 

 

 

Kategori:Opini, Wawasan Islami
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: