Beranda > Biografi > Farhan Mujahid, Gugur dalam Baku Tembak, Dikenal Pemberani Sejak Kecil

Farhan Mujahid, Gugur dalam Baku Tembak, Dikenal Pemberani Sejak Kecil

NUNUKAN: Farhan Mujahid, salah satu dari 2 orang yang gugur dalam baku tembak dengan Densus 88 Antiteror di kawasan Tipes, Solo Jumat malam (31/8/2012).

 Farhan sempat menghabiskan masa kecilnya di Kecamatan Sebatik Barat, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur.

ia pernah bersekolah di SD 002 Muhammadiyah, Desa Liang Bunyu, Kecamatan Sebatik Barat, Kabupaten Nunukan.

 Kepala Desa Liang Bunyu, Mansyur, di Sebatik, Minggu (2/9/2012) malam membenarkan bahwa korban (Farhan Mujahid) tinggal bersama orangtuanya di Liang Bunyu pada tahun 2000 dan sempat mengenyam pendidikan di sekolah tersebut.

Mansyur yang belum menjabat kepala desa saat itu, menceritakan, Farhan pertama kali datang di Liang Bunyu masih berumur sembilan tahun yang mengikuti ayah tirinya bernama Abdullah Umar.

Ia mengaku tidak mengetahui secara detail soal keseharian Farhan. Namun menurutnya, Farhan tinggal bersama ibu kandungnya bernama Ida yang merupakan istri kedua ustadz Abdullah Umar.

“Setahu saya Farhan itu adalah anak kandung dari istri kedua Ustadz Abdullah Umar. Jadi dia (Farhan) adalah anak tiri dari ustadz Abdullah,” jelasnya.

 Guru Farhan bernama Marhani membenarkan Farhan yang menjadi korban penembakan Densus 88 pada Jumat (31/8/2012) lalu adalah mantan muridnya di SD 041 Muhammadiyah Liang Bunyu yang sekarang berubah nama jadi SD 002 Muhammadiyah Liang Bunyu.

Menurut Marhani, Farhan masuk sekolah tahun 2000 dikelas II dan berhasil menamatkan sekolahnya di sekolah itu juga tahun 2005 silam. Dan pada saat itu yang menjadi kepala sekolah adalah ustadz Abdullah Umar yang merupakan ayah tirinya.

“Farhan masuk di sekolah ini di kelas II sampai tamat tahun 2005,” ujar Marhani, guru matematika Farhan.

Ia mengenal sosok Farhan sebagai anak yang penurut pada orang tua serta taat beribadah. “Anak itu perangainya baik, penurut pada orangtua dan gurunya. Dia (Farhan) juga taat beribadah,” kata gurunya yang bernama Marhani di Sebatik, Minggu (2/9/2012) malam.

Menurut Marhani, Farhan termasuk siswa yang rajin belajar dan selalu mematuhi perintah guru maupun orang tua. Farhan juga dikenal baik oleh teman-temannya di sekolah dan luar sekolah di Liang Bunyu.

Di mata warga, orang tua Farhan yaitu Abdullah Umar yang dikenal juga dengan Abu Umar dan ibunya Ida yang merupakan ustadz sekaligus guru mengaji, merupakan sosok yang kharismatik.

Farhan kecil di mata teman-temannya juga dikenal merupakan sosok pendiam dan penurut. Meskipun demikian, Farhan termasuk anak yang pintar di sekolahnya selama tinggal di Desa Liang Bunyu. Meskipun hanya sesekali ikut bermain bersama temannya, sosok Farhan juga dikenal tegas dan pemberani.

Keberadan Farhan bersama orang tuanya di Desa Liang Bunyu terhitung dari tahun 2000 hingga pertengahan tahun 2005. Setelah itu Farhan melanjutkan sekolahnya ke Pondok Pesantren Ngruki di Sukoharjo, Jawa Tengah. [Widad/ mtr, ant][ voa-islam.com]

 

 

 

Kategori:Biografi
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: