Beranda > Biografi > Seputar Tanda Isyarat Syahid (Insya Allah) Farhan Mujahid dan Muchsin Tsani

Seputar Tanda Isyarat Syahid (Insya Allah) Farhan Mujahid dan Muchsin Tsani

Ibu Tiri Farhan Ungkap Tanda Syahid & 19 Lubang Peluru di Jasad Farhan

Jenazah Farhan Mujahid, Jum’at (7/9/2012) dimakamkan di TPU Pondok Ranggon, Blok AB, Jakarta Timur. Usai shalat Jum’at, jenazah Farhan dikuburkan terlebih dahulu sebelum jenazah Muchsin.

Puluhan pelayat turut mengiringi pemakaman Farhan, mereka mengumandangkan takbir yang saling bersahutan. Pemakaman berlangsung pun berlangsung singkat tanpa kendala apa pun.

Usai pemakaman, voa-islam.com mewawancarai ibu tiri Farhan yang bernama Endang. Ibu Endang adalah istri pertama ustadz Abdullah Umar, yang merupakan ayah tiri Farhan.

Ummi Endang, sapaan akrabnya, mengaku sudah mengikhlaskan Farhan yang pada Jum’at (31/9/2012) lalu, menjadi korban penembakan Densus 88 di Solo, Jawa Tengah. “Sejak saya tahu kabarnya, sebagai orang tua saya sangat mengikhlaskan, buat kemudahan dia juga,” tuturnya kepada voa-islam.com, dari ujung telepon, Jum’at (7/9/2012).

Saat ditanya tentang rencana tasyakuran atas syahidnya Farhan yang pernah diungkapkan ustadz Abdullah Umar, Ummi Endang mengatakan jika itu telah dilakasanakan pada hari Rabu (5/9/2012) lalu.

“Kalau walimahan sudah kemarin. Allah mengabulkan apa yang saya minta. Waktu muncul berita, lalu keesokan harinya saya tuh terbersit dalam hati bikin syukuran buat dia (almarhum Farhan, red.), tapi gimana caranya dalam kondisi seperti ini? Alhamdulillah ada seorang ummahat yang silaturahim terus menawarkan untuk syukuran,” ujarnya.

“Selasa besuk abinya terus hari Rabu makanan diantar, ada 10 box, lengkap; nasi sama kambingnya. Alhamdulillah saya sangat bersyukur sekali,” sambungnya.

Ummi Endang pun sempat mengungkapkan beberapa keanehan yang dialaminya seperti bau wangi di rumahnya yang belum pernah ia cium sebelumnya.

“Senin (3/9/2012) saya ngajar les anak-anak sampai larut malam, terus waktu orang tuanya pulang kerja, dia juga pulang. Anak saya yang kecil-kecil sudah tidur, lalu saya sendirian bersih-bersih, nyapu. Ngga lama anak yang tadi pulang itu datang terus tanya; ummi mencium bau wangi ngga? Waktu itu memang saya sudah mencium, terus saya keluar bawa sapu, harum sekali baunya. Sampai saya masuk ke ruang tamu saya, sampai ke ruang saya ngajar itu tetap terasa. Ini bau apa? kok wangi sekali, saya belum pernah mencium bau seperti itu. Akhirnya saya menangis, sambil megang sapu,” paparnya penuh haru.

Memang, sejak dirinya mengetahui bahwa Farhan gugur dalam penembakan yang dilakukan Densus 88 Jum’at lalu, sempat terbersit di hatinya agar Allah memperlihatkan tanda-tanda syahidnya Farhan.

“Sewaktu Jum’at malam Sabtu itu kejadian saya lihat di televisi, terus disebut nama anak kami yang syahid, lalu saya berucap; “ya Allah berilah tanda kalau memang dia itu syahid, harumkanlah darahnya kalau dia memang syahid.” Tapi saya mikir, bagaimana mau mencium, saya saja berada di rumah? Saya hanya berdoa, terimah dia sebagai syuhada dengan amal yang dia kerjakan, ampunilah segala dosa-dosanya. Itu saya saja sebagai seorang ibu saya berdoa,” harapnya.

 Ummi Endang bersama ibu kandung Farhan sempat menyaksikan jenazah Farhan. Ia mengungkapkan setidaknya ada 19 lubang peluru pada jenazah Farhan yang menjadi korban kebiadaban Densus 88.

“Saya dua kali melihat jasadnya Farhan,  luka-lukanya kelihatan memang. Ada 19 lubang peluru. Lubang itu ada di bawah ketiak, panjang sampai mau ke pinggang. Kemudia di bawah dadanya dia, di perutnya ada, di bagian pipi kanan kiri ada, yang paling besar itu di jidat,” ungkapnya.

Selain itu, ia mengungkapkan tanda-tanda syahid lainnya, seperti jasad Farhan yang lemah seperti orang tidur dan tidak kaku seperti umumnya orang yang meninggal dunia.

“Waktu itu kami berdua dengan ummi kandungnya Farhan melihat, kami melihat jasadnya sampai leher. Tidak berapa lama ummi kandungnya itu pingsan. Kemudian saya melihat lagi (jasad Farhan, red.), lalu dibukakan semua kainnya sampai sebatas pinggang.  Alhamdulillah, saya pegang tangannya itu tidak kaku, lemah sekali seperti orang tidur. Luka yang di jidat itu masih merah, lalu sepertinya menetes ke telinga,” ucap ummi Endang.

Meskipun ia bukan orang tua kandung, namun almarhum Farhan begitu dekat dengannya. Menurutnya, kedekatan itulah yang mungkin menjadi penyebab ia merasakan firasat dan tanda-tanda syahidnya Farhan.

“Almarhum itu dekat dengan saya, sekalipun saya bukan ibu kandung, dia suka main ke sini, betah menginap di sini, jadi hubungan kami seperti orang tua kandung,” imbuhnya. [Ahmed Widad]

****

Isyarat Syahid Jenazah Muchsin, Darah Menetes Membasahi Kain Kafan

Muchsin Sanny Permadi, remaja yang gugur ditembak oleh Densus 88 pada hari Jum’at (31/8/2012) lalu, di Jalan Veteran, Solo, akhirnya dimakamkan.

Pemakaman Muchsin sempat tertunda. Dari kabar yang beredar awalnya Muchsin akan dimakamkan hari Kamis (6/9/2012) kemarin, namun entah kenapa, rencana pemakaman itu ditunda hingga hari Jum’at (7/9/2012) jenazah Muchsin baru bisa dimakamkan.

Usai shalat Jum’at, sekitar pukul 14.00 WIB, sejumlah wartawan dari berbagai media, baik cetak maupun elektronik sudah menunggu di TPU Pondok Ranggon, Jakarta Timur. Siang itu, dua liang lahat telah dipersiapkan untuk kedua pemuda mujahid, Farhan dan Muchsin.

Letak makam keduanya berada di Blok AB, sebuah Blok yang sepertinya khusus bagi para syuhada. Sebab, makam dua pemuda ini berdekatan dengan M. Syarif, Saifuddin Zuhri, Syahrir, Ibrahim dan yang lainnya.

Setelah menunggu beberapa lama, iring-iringan dua mobil jenazah dan mobil patroli polisi pun datang bersama dengan rombongan keluarga. Setidaknya lebih dari 50 orang hadir dalam pemakaman tersebut.

Setelah jenazah Farhan Mujahid terelebih dahulu dimakamkan, baru kemudian jenazah Muchsin Sanny Mujahid diusung ke luar dari mobil jenazah. Sanak keluarga dan para pelayat lainnya bergantian membawa peti jenazah Muchsin.

Saat jenazah dikeluarkan dari peti, ayah Muchisin yang bernama Muslimin dan beberapa orang turun ke lubang kubur menerima jenazah untuk diletakkan di liang lahat. Seketika itu juga tali kafan dibuka, saat kafan yang menutupi wajah Muchsin disingkap dan disaksikan untuk yang terakhir kalinya, sontak ibu-ibu yang turut mengantar jenazah, menangis histeris sambil menyebut-nyebut nama Muchsin.

Sebuah tanda-tanda syahid (insya Allah) terlihat dari jenazah Muchsin. Hampir semua yang hadir saat pemakaman menyaksikan darah segar masih terus menetes dari bagian kepala Muchsin, hingga warna merah darah tersebut membasahi kain kafan. Padahal, jenazah Muchsin sudah satu minggu sejak wafatnya.

Tak lama, setelah dimasukkan ke liang lahat dengan menghadap kiblat, jenazah pun ditutup kayu lalu ditimbun tanah.

 Setelah usai, terlihat sang ayah, Muslimin memadatkan tanah seraya mengusap pusara makam anaknya, Muchsin Sanni dengan wajah sedih. Dengan baju koko putih yang kotor dengan tanah merah, Muslimin bergegas meninggalkan makam.

Ketika para wartawan mendekati untuk mewawancara, Muslimin hanya menjawab; “saya sudah sampaikan tadi di rumah sakit,” tuturnya, dengan nafas kelelahan dan kucuran keringat di wajah.

Para wartawan yang mengerumuni Muslimin pun tak menyerah, beberapa pertanyaan dilontarkan begitu saja; “apakah bapak ikhlas?”

Akhirnya, Muslimin pun menjawab singkat; ”Iya, saya ikhlas. Semoga ke depannya bisa lebih baik. Allahu Akbar!” tutur Muslimin dengan suara lirih.

Sekitar pukul 15.00 WIB pemakaman pun usai, rombongan mobil dan motor dari pihak keluarga maupun umat Islam yang bersimpati meninggalkan TPU Pondok Ranggon. [Ahmed Widad]

****

Ustadz Abdullah Umar Bersyukur Atas Syahidnya Farhan

Peristiwa penembakan oleh Densus 88 di jalan Veteran, Solo pada Jum’at (31/8/2012) lalu telah menyebabkan 2 orang pemuda gugur dan seorang anggota Densus 88 tewas.

Kedua pemuda itu diketahui bernama Muchsin dan Farhan. Pihak kepolisin menyebut bahwa Farhan adalah anak tiri dari ustadz Abdullah Umar atau Abu Umar, salah seorang narapidana ‘teroris’ yang telah divonis 10 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Barat pada bulan Mei 2012 lalu.

Terkait hal tersebut tentu banyak kaum muslimin yang ingin mengetahui secara pasti, benarkah Farhan adalah anak tiri ustadz Abdullah Umar. Ternyata tak berapa lama, redaksi voa-islam.com mendapatkan kiriman berita tentang ustadz Abdullah Umar. Dalam berita tersebut ia mengkonfirmasi kebenaran bahwa Farhan adalah anak tirinya.

…Alhamdulillah kami sekeluarga sangat bergembira karena kami baru saja menikahkan anak kami (dengan bidadari, red.)

Bahkan ustadz Abdullah Umar bersyukur anak tirinya, Farhan Mujahid telah syahid. “Alhamdulillah, kami sekeluarga sangat bergembira karena kami baru saja menikahkan anak kami (dengan bidadari, red.) dan kami sekeluarga insya Allah memiliki kesempatan untuk mendapatkan syafa’at dari keluarga kami yang syahid,” demikian ungkap ustadz Abdullah Umar dalam berita yang diterima redaksi voa-islam.com, Rabu (5/9/2012).

Untuk mengungkapkan kegembiraan dan rasa syukur atas syahidnya Farhan Mujahid, ustadz Abdullah Umar insya Allah berencana mengadakan tasyakuran dengan memotong kambing pada hari Rabu ini.

Perlu diketahui bahwa setelah ayah kandung Farhan yang bernama Sarmo (bukan Sartono seperti yang dikatakan oleh BNPT, red.) syahid dalam amaliyah jihad pada awal tahun 2000, maka istri Sarmo kemudian dinikahi oleh ustadz  Abdullah Umar. Pada saat itu Farhan masih berusia sekitar enam tahun. Sejak itu Farhan berada dalam asuhan dan didikan ustadz Abdullah Umar.

…kepada  kalian yang sibuk dengan meributkan perbedaan kelompok dan perbedaan pendapat dengan meninggalkan jihad sehingga kita semakin terpuruk, hendaklah malu kepada seorang anak kecil yang telah berani berjihad

Selain itu, ustadz Abdullah Umar juga menyampaikan pesan kepada para aktivis dan pemuda Islam. “Pertama, hendaknya kita malu kepada seorang anak kecil (Farhan berusia 18 tahun) yang berani menghadang para pembela thaghut. Kita juga harus malu di mana kita takut dan lari dari kematian sementara Farhan justru mencari kematian.

Kedua, kepada  kalian yang sibuk dengan meributkan perbedaan kelompok dan perbedaan pendapat dengan meninggalkan jihad sehingga kita semakin terpuruk, hendaklah malu kepada seorang anak kecil yang telah berani berjihad,” jelasnya.

Demikian nasehat dan pesan dari ustadz Abdullah Umar dari balik terali besi. Ia berharap semoga kelak ada para pemuda yang terus berjihad melanjutkan perjuangan Islam. [AF]

Source: http://www.voa-islam.com

 

 

 

Kategori:Biografi
  1. Maret 17, 2013 pukul 2:49 pm

    Ad Daulatul Islamiyah Melayu
    Khilafah Islam Akhir Zaman

    Kami mengundang Kaum Mukminin-Mukminat
    Dari seluruh Dunia untuk bergabung bersama kami
    Menjadi Tentara Islam The Man from The East of Imam Mahdi
    as A New World Religion Bangsa Islam Akhir Zaman.

    Kami mengundang Anda Menjadi Bagian Bangsa Islam berdasar Aqidah Islam
    Bukan Menjadi bagian dari Bangsa-bangsa berdasarkan Daerah

    Kunjungi Undangan kami Kehadiran anda kami tunggu di
    di http://dimelayu.co.gp

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: